Erick Thohir Tuai Kritik Usai Depak Shin Tae-yong, Deretan Pelatih Eropa Ini Berjaya Berkat Kesabaran Bangun Timnas

Polemik Shin Tae-yong: Deddy Corbuzier kritik PSSI. Simak kisah pelatih Eropa seperti Petkovic dan Deschamps yang sukses bangun timnas.

R
Erick Thohir Tuai Kritik Usai Depak Shin Tae-yong, Deretan Pelatih Eropa Ini Berjaya Berkat Kesabaran Bangun Timnas

PORTAL BONTANG – Polemik keputusan PSSI untuk memberhentikan Shin Tae-yong (STY) dari kursi pelatih Timnas Indonesia terus menjadi topik hangat.

Langkah ini menuai kritik di tengah usaha STY yang telah lama berjuang membawa skuad Garuda menuju panggung Piala Dunia.

Sebagian penggemar Timnas menyesalkan keputusan Erick Thohir, Ketua Umum PSSI, yang menggantikan STY dengan pelatih asal Belanda, Patrick Kluivert.

Baca Juga: Nasib Saham Rp267 Miliar Raffi Ahmad di STY Foundation Pasca Pemecatan Shin Tae-yong, Apa yang Akan Terjadi?

Salah satu suara yang tidak setuju datang dari selebritas dan YouTuber ternama, Deddy Corbuzier.

Dalam siniar YouTube terbarunya pada Jumat, 10 Januari 2025, ia menganggap keputusan ini keliru, mengingat dedikasi STY selama hampir lima tahun melatih Timnas Indonesia.

“Saya berpendapat, keputusan PSSI memecat Shin Tae-yong adalah keputusan yang tidak tepat,” ujar Deddy Corbuzier.

“Terlepas dari yang setuju atau tidak, menurut saya, memberhentikan STY setelah hampir lima tahun bersama Timnas Indonesia adalah langkah yang keliru,” tambahnya.

Baca Juga: Setelah Salju Bersejarah, Arab Saudi Kini Dihantam Banjir Bandang, Warga Diminta Waspada Hingga Empat Hari

Meski begitu, Deddy tetap mendukung perjalanan Timnas Indonesia walaupun menyayangkan kebijakan PSSI yang resmi diumumkan pada Senin, 6 Januari 2025.

“Kita bicara keputusan. Kalau ke Pak Erick sebagai Ketua Umum PSSI, saya hormat,” jelasnya.

“Namun, menghadirkan pelatih baru saat perjuangan STY di titik ini, yaitu Kualifikasi Putaran Ketiga Piala Dunia 2026, menurut saya keputusan tersebut tidak tepat.”

Baca Juga: Raffi Ahmad Laporkan Kekayaan ke KPK, Total Hartanya Capai Triliunan

Berangkat dari keputusan kontroversial ini, ada pelajaran berharga dari sederet pelatih Eropa yang sukses membangun tim nasionalnya dengan kerja keras dan waktu panjang.

Berikut ini beberapa di antaranya:

1. Vladimir Petkovic – Timnas Swiss
Vladimir Petkovic menjadi pelatih utama Swiss pada Juli 2014.

Selama masa kepemimpinannya, Swiss yang terkenal sebagai tim tanpa bintang mampu tampil konsisten di kompetisi internasional.

Baca Juga: Pro-Kontra Fans Garuda Jadi Sorotan di Vietnam: Dari Patrick Kluivert hingga Shin Tae-yong

Di bawah asuhan Petkovic, Swiss lolos dari babak grup di Piala Eropa 2016 dan Piala Dunia 2018.

Ia juga membawa Swiss melewati babak kualifikasi dengan mulus untuk Piala Eropa 2022, bukti kerja keras selama tujuh tahun melatih.

2. Didier Deschamps – Timnas Prancis
Didier Deschamps mengambil alih Timnas Prancis pada Juli 2012. Prestasinya terlihat dengan membawa Les Bleus ke perempat final Piala Dunia 2014, final Piala Eropa 2016, dan puncaknya menjuarai Piala Dunia 2018 setelah enam tahun membangun skuad.

3. Koldo Alvarez – Timnas Andorra
Sejak Februari 2010, Koldo Alvarez melatih Andorra yang saat itu berada di peringkat terbawah FIFA.

Baca Juga: Resmi Jadi Wagub DKI Terpilih, Rano ‘Doel’ Karno Kenang Perjalanan Hidup: Anak Betawi yang Pernah Keliling Kampung Jualan Kue

Dalam tujuh tahun, ia memimpin kemenangan pertama tim ini sejak 2004, menjadikannya salah satu pelatih paling lama bertahan dengan lebih dari satu dekade pengabdian.

4. Joachim Loew – Timnas Jerman
Joachim Loew mulai melatih Jerman pada Juli 2006.

Selama 15 tahun, ia membawa Jerman ke final Piala Eropa 2008 dan meraih gelar Piala Dunia 2014.

Baca Juga: Program Makan Bergizi Gratis untuk Ibu Hamil Diluncurkan, Fokus pada Pencegahan KEK dan BBLR

Meski gagal di Piala Dunia 2018, Loew tetap mendapat kepercayaan hingga 2021.

5. Fernando Santos – Timnas Portugal
Fernando Santos ditunjuk sebagai pelatih Portugal pada 2014.

Di bawah kepemimpinannya, Portugal menjuarai Piala Eropa 2016 dan UEFA Nations League 2019, bukti ketangguhannya selama delapan tahun melatih hingga mundur pada 2022. ***

 

***
Penulis: M Zulfikar A | Editor: M Zulfikar A

info

Peringatan Plagiarisme

Dilarang mengutip, menyalin, atau memperbanyak isi berita maupun foto dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari Redaksi. Pelanggaran terhadap hak cipta dapat dikenakan sanksi sesuai UU Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dengan ancaman pidana penjara maksimal 10 tahun dan/atau denda hingga Rp4 miliar.

Editor: Redaksi Portal Bontang

Menu