Portalbontang.com, Bontang - Riuh tepuk tangan dan decak kagum silih berganti menggema di dalam Gedung Auditorium 3 Dimensi pada Sabtu (18/7/2026). Mata sekitar 400 penonton yang terdiri dari siswa, guru, orang tua, hingga tamu undangan, tak lepas dari layar besar yang menayangkan visual-visual apik layaknya karya sineas profesional.
Siapa sangka, karya-karya memukau tersebut murni lahir dari tangan dingin para remaja belasan tahun. Melalui panggung GESYA (Gebyar Seni Budaya) Ke-7 , SMKN 1 Bontang sukses menyulap proyek pembelajaran menjadi sebuah festival sinema yang membanggakan.
Sebanyak 23 film pendek karya siswa kelas X diputar hari itu, menjadi puncak dari hasil pembelajaran Seni Budaya bidang seni pertunjukan. Menariknya, karya ini tak sekadar menumpang nama. Setiap film adalah manifestasi dari keringat dan kolaborasi para siswa yang "turun gunung" langsung dalam seluruh tahapan produksi.
Bermodalkan keberanian dan kreativitas, mereka membagi peran: mulai dari menyusun ide cerita, menulis naskah, menyutradarai, mengambil gambar, berakting, hingga rela begadang untuk menyunting film. Semua dilakukan mandiri oleh para peserta didik.
Tema yang diangkat pun sangat dekat dan membumi. Layar Auditorium 3 Dimensi menyajikan potret kehidupan remaja, harunya persahabatan, hangatnya keluarga, pendidikan karakter, luhurnya budaya lokal, hingga isu sosial yang lekat dengan kehidupan sehari-hari. Pesan moral dalam setiap karya dikemas dengan sentuhan jenaka, dramatis, namun tetap menginspirasi.
Pembina kegiatan sekaligus Guru Seni Budaya SMKN 1 Bontang, Apris Triatmiko, S.Pd., menatap bangga ke arah anak didiknya. Baginya, GESYA adalah perayaan atas proses panjang yang telah dilalui.
“Kegiatan ini sebagai ajang apresiasi terselesaikannya tugas Seni Budaya bidang seni pertunjukan oleh siswa-siswi kelas X SMK Negeri 1 Bontang,” ujarnya.
Baca Juga: Milad ke-77 HMI Putar Spesial Film LAFRAN
Apris menyadari bahwa di balik keindahan visual film, ada pelajaran hidup yang jauh lebih berharga sedang dibentuk. Dunia perfilman memaksa para siswa keluar dari zona nyaman mereka.
“Melalui pembuatan film, siswa belajar berkolaborasi, berkomunikasi, mengelola tim, memimpin, sekaligus menyelesaikan berbagai persoalan yang muncul selama proses produksi. Nilai-nilai inilah yang kami harapkan menjadi bekal mereka ketika memasuki dunia kerja maupun kehidupan bermasyarakat,” katanya dengan penuh harap.
Menutup festival hari itu, Apris membentangkan asa agar semangat ini tidak padam seiring berlalunya acara.
“Kami berharap GESYA dapat terus menjadi wadah bagi siswa untuk berkarya, berinovasi, dan berani menampilkan hasil belajarnya kepada masyarakat. Pengalaman ini menjadi proses pembelajaran yang sangat berharga bagi mereka,” tutupnya, diiringi tepuk tangan membahana dari para penonton yang merasa terhibur sekaligus terinspirasi. ***