Konvoi Bantuan Kemanusiaan Mulai Tiba di Gaza, Gunakan Dermaga Sementara di Tengah Konflik Israel-Hamas

Truk pengangkut bantuan kemanusiaan mulai masuk melalui dermaga sementara yang didirikan oleh Amerika Serikat di lepas pantai Jalur Gaza.

R
Konvoi Bantuan Kemanusiaan Mulai Tiba di Gaza, Gunakan Dermaga Sementara di Tengah Konflik Israel-Hamas

PORTAL BONTANG – Pada hari Jumat 17 Mei 2024, truk-truk mulai mengangkut bantuan kemanusiaan melalui dermaga sementara yang didirikan oleh Amerika Serikat (AS) di lepas pantai Jalur Gaza.

Menurut PBB, ratusan ribu orang di wilayah tersebut menghadapi ancaman kelaparan, dan konflik yang sedang berlangsung antara Israel dan Hamas dapat menghambat operasi bantuan.

Truk-truk bantuan mulai bergerak ke darat melalui dermaga sekitar pukul 9 pagi, menurut Komando Pusat AS (CENTCOM), dilansir Portalbontang.com dari VOA Indonesia, Sabtu 18 Mei 2024.

Baca Juga: Kredit Fiktif Rp 13 Miliar di Bank BJB Pandeglang: Dua Pelaku Ditangkap, Pimpinan Cabang Aman?

Dermaga terapung ini telah dirakit sebelumnya oleh militer AS di pelabuhan Ashdod, Israel, dan dipindahkan ke pantai Gaza minggu ini.

Ini memungkinkan pengiriman bantuan oleh beberapa negara dan organisasi kemanusiaan, kata CENTCOM. Tidak ada tentara AS yang mendarat di Gaza.

Pasokan akan menjalani pemeriksaan keamanan Israel di Siprus sebelum tiba di dermaga dan harus melalui pos pemeriksaan tambahan Israel setelah mereka mendarat, kata pejabat pemerintah AS.

Namun, PBB menyatakan bahwa konvoi truk yang tiba melalui darat adalah metode yang “paling layak, efektif dan efisien” untuk mengirimkan bantuan ke Gaza.

Baca Juga: PT. Yepeka Usaha Mandiri Buka Lowongan Kerja untuk 3 Posisi Menarik

“Untuk mencegah kengerian kelaparan, kita harus menggunakan rute tercepat dan paling jelas untuk menjangkau masyarakat Gaza – dan untuk itu, kita memerlukan akses melalui darat sekarang,” kata wakil juru bicara PBB Farhan Haq.

Pertempuran sengit di seluruh wilayah kantong telah menghambat pengiriman bantuan kemanusiaan, dan kelompok bantuan memperingatkan bahwa kondisinya terlalu berbahaya dan tidak stabil bagi para pekerja untuk memberikan bantuan dengan aman di sana.

Banyak yang khawatir bahwa ketika perang Israel-Hamas berkecamuk, kelompok-kelompok bantuan mungkin terpaksa menghentikan operasinya.

Baca Juga: PT. Usaha Sukses Berdikari Buka Lowongan Kerja Jabatan Akuntansi

“Ada kebutuhan yang sangat besar” yang pasti akan terus bertambah, sementara akses yang ada “semakin berkurang,” kata kepala badan amal Eropa kepada kantor berita AFP tanpa menyebut nama.

Seorang pekerja di organisasi non-pemerintah Humanity & Inclusion yang berbasis di Paris di wilayah Palestina, yang juga berbicara tanpa mau disebutkan namanya, mengatakan, “Kami tidak bisa mengeluarkan tim kami; kondisi keamanan terlalu tidak stabil.”

Persimpangan Rafah – koridor bantuan kemanusiaan utama di perbatasan Mesir – telah ditutup sejak militer Israel melancarkan apa yang disebutnya operasi “terbatas” di Kota Rafah pada 7 Mei, yang memicu eksodus warga Palestina yang mencari keselamatan lebih jauh ke utara di Gaza.

Perserikatan Bangsa-Bangsa dan kelompok bantuan lainnya mengatakan bahwa Israel perlu berbuat lebih banyak untuk menyalurkan bantuan ke Gaza, yang telah hancur akibat perang sejak Israel melancarkan operasi militernya sebagai tanggapan atas serangan Hamas terhadap Israel pada tanggal 7 Oktober.

Baca Juga: Warga Palestina Peringati 76 Tahun Hari Nakba, Korban Perang dengan Israel Mencapai Lebih Dari 35 Ribu Orang

Hamas telah ditunjuk sebagai organisasi teror oleh AS, Inggris, dan negara-negara lain.

Israel mengatakan pihaknya meningkatkan upaya untuk memasukkan bantuan ke Gaza, dan militer mengatakan 365 truk bantuan telah masuk melalui titik penyeberangan Kerem Shalom dan Erez pada Kamis 16 Mei 2024, membawa tepung (gandum) dan bahan bakar.

Selain itu, ratusan tenda juga diserahkan yang diperuntukkan bagi masyarakat yang dievakuasi dari Rafah ke kawasan al-Mawasi yang telah ditetapkan Israel sebagai zona kemanusiaan.

“(Pasukan Pertahanan Israel atau IDF) akan melanjutkan upayanya untuk memungkinkan bantuan kemanusiaan memasuki Jalur Gaza melalui darat, udara dan laut, sesuai dengan hukum internasional,” katanya dalam sebuah pernyataan.

Baca Juga: 30 WNI Terjerat Penipuan Kerja, Terjebak di Penjara Imigrasi Kamboja

Sementara itu, pasukan Israel terlibat dalam peperangan perkotaan yang sengit pada Jumat  di gang-gang sempit Kota Jabalia melawan kebangkitan kembali sel-sel Hamas di Gaza utara.

Pasukan Israel menemukan tiga jenazah sandera dari Jalur Gaza, kata kepala juru bicara militer IDF, Daniel Hagari pada Jumat.

Hagari mengidentifikasi para sandera sebagai Shani Louk, Amit Buskila dan Itzhak Gelerenter, yang menurutnya dibunuh oleh Hamas di festival musik Nova dan jenazah mereka dibawa ke Gaza.

Baca Juga: PT. Ikhsan Raya Perkasa Buka Lowongan Kerja untuk Proyek Nitrogen Plant II di PT. Kaltim Daya Mandiri

Kendaraan lapis baja Israel meluncur ke jantung Jabalia, kamp pengungsi terbesar dari delapan kamp pengungsi bersejarah di Gaza, dan buldoser meratakan rumah-rumah dan toko-toko di jalur serangan tersebut, kata penduduk di daerah tersebut.

Sementara pertempuran berkecamuk di utara, aktivitas Israel di Rafah telah menyebabkan ratusan ribu orang mengungsi.

Sejak serangan militer Israel di Rafah dimulai, lebih dari 630.000 orang terpaksa mengungsi dari Kota Gaza selatan, menurut badan bantuan utama PBB untuk Palestina, UNRWA.

Banyak dari mereka telah melarikan diri ke Gaza tengah, kata UNRWA, seraya menambahkan bahwa daerah di sekitar Kota Deir al-Balah sekarang “sangat penuh sesak dengan kondisi yang mengerikan.” Satu-satunya kota lain di Gaza yang belum diserang oleh pasukan Israel.

Tank dan pesawat tempur Israel membombardir sebagian Rafah pada hari Jumat, sementara sayap bersenjata Hamas dan Jihad Islam mengatakan mereka menembakkan rudal anti-tank dan mortir ke arah pasukan yang berkumpul di timur, tenggara dan di dalam perbatasan Rafah dengan Mesir.

Baca Juga: 5 Manfaat Air Kelapa yang Terbukti Secara Ilmiah, Baik untuk Kesehatan

Serangan Hamas terhadap Israel pada 7 Oktober 2023 lalu menewaskan 1.200 orang dan menyebabkan penangkapan sekitar 250 sandera, menurut para pejabat Israel.

Serangan balasan Israel di Gaza telah menewaskan lebih dari 35.000 warga Palestina, menurut Kementerian Kesehatan Gaza yang dikelola Hamas, yang mencakup warga sipil dan kombatan, namun ditambahkan bahwa sebagian besar korban tewas adalah perempuan dan anak-anak. ***

 

***
Penulis: M Zulfikar A | Editor: M Zulfikar A

info

Peringatan Plagiarisme

Dilarang mengutip, menyalin, atau memperbanyak isi berita maupun foto dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari Redaksi. Pelanggaran terhadap hak cipta dapat dikenakan sanksi sesuai UU Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dengan ancaman pidana penjara maksimal 10 tahun dan/atau denda hingga Rp4 miliar.

Editor: Redaksi Portal Bontang

Menu