Solusi Konflik Papua, Akademisi: Dialog, Negosiasi, dan Otonomi Kunci Menuju Perdamaian Abadi

Konflik Papua, provinsi paling timur Indonesia, terjebak dalam konflik berkepanjangan dengan OPM sejak era kolonial Belanda.

R
Solusi Konflik Papua, Akademisi: Dialog, Negosiasi, dan Otonomi Kunci Menuju Perdamaian Abadi

PORTAL BONTANGKonflik Papua yang menjadi provinsi paling timur di Indonesia mengalami konflik berkepanjangan dengan Organisasi Papua Merdeka (OPM) sejak masa penjajahan Belanda.

OPM yang didirikan pada tahun 1965 itu bertujuan untuk memperoleh kemerdekaan bagi Papua Barat.

Konflik di Papua ini telah menelan banyak korban jiwa dan menyebabkan ketegangan yang terus berlanjut antara pemerintah Indonesia dan kelompok separatis.

Baca Juga: Kaltim Tuan Rumah Perayaan Hari Musik Nasional 2024, Deretan Musisi Ternama Siap Meriahkan Acara

Syasya Yuania Fadila Mas’udi, S.IP., MstratSt., akademisi dari prodi Hubungan Internasional menyatakan bahwa konflik ini berasal dari penyatuan Irian Barat ke Indonesia pada 1969 melalui Pepera, yang dianggap oleh beberapa pihak tidak mewakili keinginan mereka.

Hal ini memicu pembentukan OPM dan konflik dengan pemerintah Indonesia.

Untuk mencari solusi yang tepat untuk konflik OPM di Papua tersebut, Syasya menyampaikan bahwa perlu dilakukan pendekatan yang berfokus pada dialog terbuka dan saling pengertian antara pemerintah dan OPM.

Baca Juga: Konsumsi Alkohol dan Rokok Elektrik Remaja Mengkhawatirkan, WHO: Perlu Langkah Pencegahan

Kata dia, banyak yang berpendapat bahwa pendekatan yang seharusnya diambil oleh Pemerintah Indonesia untuk menyelesaikan konflik di Papua ini adalah pendekatan budaya.

“Menurut saya pribadi, perlu ada pemahaman yang lebih dari Pemerintah Indonesia terhadap apa yang sebenarnya diinginkan oleh saudara-saudara kita di Papua. Apakah memang pembangunan yang bersifat materialistik yang mereka butuhkan atau yang lain,” tambahnya.

Selain itu, organisasi internasional, seperti PBB, dapat memfasilitasi dialog dan memberikan bantuan teknis dalam penyelesaian konflik di Papua.

Baca Juga: 3 Camilan Sehat dan Berenergi, Cocok Dimakan Sebelum Berolahraga

Dukungan dari negara-negara mitra penting untuk mempercepat proses tersebut melalui kerjasama dan kolaborasi.

Pihak ketiga yang menjadi mediator harus pihak yang tidak memiliki kepentingan apapun terhadap konflik yang terjadi, dalam hal ini, mungkin bisa menunjuk Swiss sebagai negara yang netral.

Tetapi proses mediasi tidak akan mungkin terjadi apabila salah satu pihak tidak mau duduk bersama untuk membicarakan solusi terbaik bagi mereka.

Meski terlihat sederhana, namun penyelesaian konflik OPM di Papua cukup rumit.

Kurangnya kepercayaan dan ketegangan bertahun-tahun membuat negosiasi menjadi sulit.

Baca Juga: Dokter Spesialis Neurologi: Konsumsi Jenis Makanan Berikut Ini untuk Cegah Stroke

Kepentingan politik dan ekonomi kompleks juga menjadi penghambat.

Diperlukan komitmen kuat dari semua pihak untuk mencapai kesepakatan yang menguntungkan.

Untuk mengakhiri konflik OPM di Papua, Syasya menegaskan perlunya dialog, negosiasi dan otonomi khusus.

Baca Juga: Kenali 4 Gejala Khas Rinitis Alergi Pada Anak dan Cara Mengatasinya

Inspirasi dari penyelesaian konflik Aceh bisa diterapkan, namun setiap konflik memiliki konteksnya sendiri.

Ia berharap, konflik yang berlarut-larut di Papua bisa diselesaikan dengan win-win solution.

“Bukan dengan memaksakan salah satu pihak untuk setuju dengan keinginan pihak lainnya,” pungkasnya. ***

 

***
Penulis: M Zulfikar A | Editor: M Zulfikar A

info

Peringatan Plagiarisme

Dilarang mengutip, menyalin, atau memperbanyak isi berita maupun foto dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari Redaksi. Pelanggaran terhadap hak cipta dapat dikenakan sanksi sesuai UU Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dengan ancaman pidana penjara maksimal 10 tahun dan/atau denda hingga Rp4 miliar.

Editor: Redaksi Portal Bontang

Menu