Portalbontang.com, San Fransisco - Popularitas tempe sebagai kuliner khas Nusantara kini semakin mendunia. Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) San Francisco, Amerika Serikat, baru-baru ini sukses memperkenalkan olahan kedelai tersebut kepada komunitas vegan setempat.
Langkah ini diambil untuk menunjukkan bahwa tempe bukan sekadar bahan pangan harian biasa. Kuliner ini merupakan warisan budaya luhur yang memadukan kekayaan hayati dengan pengetahuan lokal masyarakat Indonesia.
Mengutip laporan dari jaringan berita InfoPublik, penegasan mengenai nilai budaya tempe disampaikan langsung oleh Konsul Jenderal RI San Francisco, Yohpy Ichsan Wardana. Pernyataan itu merespons upaya memasukkan tempe ke dalam Daftar Warisan Budaya Takbenda UNESCO.
Baca Juga: Kemendikdasmen Pastikan Tidak Ada PHK Massal Guru Non-ASN pada 2027
Pengenalan ini diharapkan dapat memperkuat pemahaman komunitas internasional mengenai nilai historis dan filosofis yang terkandung di dalamnya.
"Tempe adalah contoh indah pertemuan antara kekayaan hayati dan kebudayaan. Di dalamnya ada kedelai, ada jamur Rhizopus oligosporus, dan ada tradisi fermentasi yang telah lama hidup dalam masyarakat Indonesia," ujar Yohpy dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Senin (11/5/2026).
Yohpy juga menyoroti adanya dimensi hubungan bilateral yang unik antara Indonesia dan Amerika Serikat di balik sepotong tempe.
Meskipun teknik fermentasinya murni berasal dari tradisi asli Nusantara, sebagian besar bahan baku kedelai di Tanah Air justru hasil budidaya petani Amerika.
Baca Juga: Viral Kontroversi Juri LCC 4 Pilar MPR RI Kalbar, SMAN 1 Pontianak Tuntut Klarifikasi
Sinergi dua negara ini menjadikan tempe sebagai simbol persahabatan internasional. Kolaborasi tersebut sukses mempertemukan budaya lintas benua melalui konsep ketahanan pangan yang berkelanjutan.
Kampanye di San Francisco ini juga berfungsi untuk menggalang dukungan global terkait nominasi tempe ke UNESCO. Keputusan badan dunia tersebut kabarnya diharapkan dapat keluar pada tahun ini.
Status warisan budaya dinilai sangat krusial untuk mengukuhkan posisi tempe. Pengakuan global akan memperkuat citranya sebagai tradisi pangan sehat berbasis komunitas.
Baca Juga: PDM Bontang Gelar Muspimda 2026, Bahas Pengesahan Ranting Hingga Persiapan Muswil Kaltim
Upaya KJRI ini rupanya mendapat respons sangat positif dari Wakil Presiden San Francisco Vegan Society (SFVS), Ravinder Sehgal. Tokoh komunitas vegan ini menyatakan teknik pengolahan tempe Nusantara memang sangat pantas mendapatkan apresiasi dunia.
Sebagai langkah konkret diplomasi kuliner, KJRI San Francisco langsung menggelar kegiatan promosi besar-besaran. Acara meriah ini dihadiri oleh sekitar 140 peserta dari anggota SFVS serta berbagai komunitas kuliner setempat.
Para peserta diajak mengikuti sesi pengenalan sejarah, lokakarya teknik pembuatan tradisional, hingga demonstrasi masak menu vegan. Rangkaian acara ditutup manis dengan jamuan makan siang berupa aneka hidangan berbahan dasar tempe dan kuliner nabati khas Nusantara lainnya. ***