Ketegangan Memuncak di Selat Hormuz: Harga Minyak Terancam Meroket, 5 WNI Jadi Korban

Perang Iran vs AS-Israel membuat lalu lintas Selat Hormuz lumpuh 90 persen. Harga minyak dunia diprediksi tembus US$150. Lima WNI turut menjadi korban serangan kapal.

M
Selat Hormuz merupakan jalur perlintasan bagi 20 persen pasokan minyak mentah dunia.
Selat Hormuz merupakan jalur perlintasan bagi 20 persen pasokan minyak mentah dunia. | Foto: Google

Portalbontang.com, Bontang - Eskalasi konflik bersenjata di Timur Tengah semakin menunjukkan dampak serius bagi perekonomian dan keamanan maritim global.

Selat Hormuz yang menjadi urat nadi perdagangan minyak dunia kini menjadi sorotan utama komunitas internasional.

Kawasan perairan strategis ini nyaris lumpuh usai Iran memutuskan untuk menutup jalur perdagangan tersebut.

Baca Juga: Terjaring OTT KPK Kasus Suap, Bupati Rejang Lebong Resmi Tersangka dan Dicopot dari PAN

Langkah blokade ini merupakan imbas langsung dari serangan bertubi-tubi Amerika Serikat dan Israel ke wilayah Iran sejak 28 Februari 2026.

Kondisi ini sangat mengkhawatirkan karena Selat Hormuz merupakan jalur perlintasan bagi 20 persen pasokan minyak mentah dunia.

Perusahaan jasa keuangan raksasa, Goldman Sachs, bahkan telah memprediksi bahwa harga minyak global bisa meroket hingga US$100 per barel dalam waktu dekat.

Jika blokade ini terus berlanjut, harga minyak diproyeksikan bisa menembus angka US$150 per barel pada akhir bulan ini.

Baca Juga: MUI Sambut Baik Pembatasan Medsos Bagi Anak di Bawah 16 Tahun, Dorong Perlindungan Efektif

Merujuk pada ulasan komprehensif dari CNN Indonesia, kondisi di lapangan saat ini sangat mencekam.

Organisasi Maritim Internasional (IMO) melaporkan telah terjadi sembilan serangan terhadap kapal komersial di Selat Hormuz dalam sepekan terakhir.

Nahasnya, empat dari insiden tersebut telah merenggut nyawa total 7 orang, termasuk ledakan maut di Kapal Musaffah 2 pada 6 Maret lalu.

Baca Juga: BAZNAS Tetapkan Nisab Zakat 2026 Pakai Emas 14 Karat, Komisi Fatwa MUI Beri Tanggapan

Insiden di Kapal Musaffah 2 tersebut turut memakan korban lima Warga Negara Indonesia (WNI), dengan rincian tiga hilang, satu dirawat, dan satu selamat.

Pusat Informasi Maritim Gabungan (JMIC) memberikan peringatan keras terkait pola serangan yang kini menargetkan kapal-kapal evakuasi.

"Laporan insiden baru-baru ini menunjukkan kapal-kapal yang memberi bantuan atau operasi penyelamatan ke kapal-kapal yang sebelumnya jadi sasaran mungkin juga menghadapi serangan lanjutan" tegas JMIC.

Meski demikian, JMIC menilai bahwa operasi militer ini lebih bertujuan untuk menciptakan ketidakpastian operasional di jalur komersial.

Baca Juga: Resmi! Komdigi Terbitkan Aturan Baru, Anak di Bawah 16 Tahun Dilarang Main Medsos Mulai 28 Maret

"Bukan upaya berkelanjutan untuk menenggelamkan kapal," imbuh JMIC dalam keterangannya.

Di tengah krisis ini, Presiden AS Donald Trump kembali melontarkan ancaman keras terhadap langkah pemblokiran oleh Teheran.

"Jika Iran melakukan sesuatu yang menghentikan aliran minyak di Selat Hormuz, mereka akan dihantam oleh Amerika Serikat dua puluh kali lebih keras daripada yang telah mereka alami selama ini," ancam Trump. ***

info

Peringatan Plagiarisme

Dilarang mengutip, menyalin, atau memperbanyak isi berita maupun foto dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari Redaksi. Pelanggaran terhadap hak cipta dapat dikenakan sanksi sesuai UU Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dengan ancaman pidana penjara maksimal 10 tahun dan/atau denda hingga Rp4 miliar.

Editor: M Zulfikar A
Sumber: CNN Indonesia

Menu