Khutbah Jumat 27 Februari 2026, Zakat Fitrah sebagai Pendidikan Kepedulian Terhadap Sesama

Di bulan Ramadan ini, terdapat satu kewajiban krusial yang harus ditunaikan oleh setiap muslim, yakni membayar zakat fitrah. Berikut isi khutbah Jumat hari ini selengkapnya.

A
Ilustrasi membayar zakat fitrah.
Ilustrasi membayar zakat fitrah. | Foto: Freepik

Portalbontang.com, Bontang - Bulan suci Ramadan yang penuh keberkahan masih meliputi keseharian umat muslim. Di bulan mulia ini, terdapat satu kewajiban krusial yang harus ditunaikan oleh setiap muslim, yakni membayar zakat fitrah.

Lebih dari sekadar rutinitas untuk menggugurkan kewajiban agama, zakat fitrah sejatinya membawa pesan moral yang sangat mendalam. Ibadah ini menjadi sarana pendidikan rohani untuk menumbuhkan kepedulian sosial, mengikis sifat kikir, serta menjembatani kesenjangan ekonomi antarsesama manusia.

Untuk menyelami lebih dalam esensi dari ibadah tersebut, berikut kami sajikan naskah Khutbah Jumat bertajuk "Zakat Fitrah sebagai Pendidikan Kepedulian Terhadap Sesama". Teks ini dapat menjadi bahan renungan spiritual bagi pembaca, sekaligus referensi yang bermanfaat bagi para khatib saat bertugas di mimbar masjid.

Khutbah Pertama

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْه ُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سيدنا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اما بعـد قال الله تعالى: اَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا.

Segala puji dan syukur senantiasa kita panjatkan ke hadirat Allah Subhanahu wa Ta’ala atas limpahan nikmat iman dan Islam. Karunia agung yang Allah anugerahkan ini memungkinkan kita untuk menjalankan ketaatan ibadah dengan penuh kekhusyukan. Harapan kita bersama, semoga seluruh rantaian amal ibadah yang kita kerjakan senantiasa diterima di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala, aamiin.

Berdiri di atas mimbar Jumat yang mulia ini, terlebih di tengah bulan suci Ramadan yang sarat akan keberkahan, khatib berwasiat kepada diri pribadi dan jamaah sekalian: marilah kita senantiasa memupuk dan meningkatkan kualitas iman serta takwa. Mari kita iringi hal tersebut dengan perbanyak amal saleh dan kebaikan antarsesama. Dengan bekal keimanan, ketakwaan, serta amal kebaikan inilah, insyaallah kita akan merengkuh kebahagiaan sejati dan keselamatan hidup, baik di dunia yang fana ini maupun di kampung akhirat yang abadi.

Jamaah Shalat Jumat rahimakumullah,

Khatib ingin mengingatkan kembali urgensi menunaikan zakat fitrah di bulan suci ini. Perintah mengenai penunaian zakat ini telah ditegaskan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam surah At-Taubah ayat 103:

خُذْ مِنْ اَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيْهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْۗ اِنَّ صَلٰوتَكَ سَكَنٌ لَّهُمْۗ وَاللّٰهُ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌ

Artinya: "Ambillah zakat dari harta mereka (guna) menyucikan dan membersihkan mereka, dan doakanlah mereka karena sesungguhnya doamu adalah ketentraman bagi mereka. Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui."

Demikian pula yang termaktub dalam Al-Qur’an surah An-Nur ayat 56:

وَأَقِيمُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتُواْ ٱلزَّكَوٰةَ وَأَطِيعُواْ ٱلرَّسُولَ لَعَلَّكُمۡ تُرۡحَمُونَ

Artinya: "Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan taatlah kepada rasul, supaya kamu diberi rahmat."

Melalui firman-Nya tersebut, sangat jelas bahwa menunaikan zakat adalah kewajiban mutlak (fardu ain) bagi setiap individu muslim, yang kedudukannya setara dengan kewajiban mendirikan shalat. Jika ibadah shalat mendidik kita pada penghambaan vertikal yang murni kepada Sang Pencipta, maka zakat mendidik kita untuk memupuk kepekaan sosial dalam dimensi horizontal kepada sesama umat manusia.

Ibadah ini dinamai zakat fitrah lantaran pelaksanaannya diwajibkan saat ibadah puasa Ramadan berakhir. Kata "fitrah" sendiri bermakna tabiat asal atau kesucian manusia dari noda dosa, sehingga amalan ini sering pula disebut sebagai zakat badan. Hal ini selaras dengan sabda Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam riwayat Abu Daud:

فَرَضَ رَسُولُ اللهِ ﷺ زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ الرَّفَثِ وَاللَّغْوِ، وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ، مَنْ أَدَّاهَا قَبْلَ الصَّلَاةِ فَهِيَ زَكَاةٌ مَقْبُولَةٌ، وَمَنْ أَدَّاهَا بَعْدَ الصَّلَاةِ فَهِيَ صَدَقَةٌ مِنَ الصَّدَقَاتِ

Artinya: ”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mewajibkan zakat fitrah, sebagai pembersih bagi orang yang puasa dari segala perbuatan sia-sia, dan ucapan tidak baik, dan sebagai makanan bagi orang miskin. Siapa yang menunaikannya sebelum shalat hari raya maka zakatnya diterima, dan siapa yang menunaikannya setelah shalat hari raya maka termasuk sedekah biasa."

Terdapat pesan moral yang sangat mendalam pada ibadah zakat fitrah, yakni perpaduan harmonis antara nilai-nilai kemanusiaan dan ketuhanan yang menyempurnakan penghambaan kita. Sayangnya, di era modern ini, esensi zakat fitrah kerap kali menyusut sekadar menjadi rutinitas penggugur kewajiban belaka. 

Padahal, zakat adalah manifestasi kepedulian sosial kita kepada kelompok masyarakat yang lemah secara ekonomi agar kebutuhan hidup mereka tercukupi. Lebih dari itu, zakat berfungsi sebagai jembatan yang meruntuhkan kesenjangan sosial antara si kaya dan si miskin. Dengan hilangnya jurang pemisah tersebut, gesekan di tengah masyarakat dapat diredam karena kaum duafa merasa dirangkul dan menjadi bagian tak terpisahkan dari lingkungan sekitarnya.

Jamaah Shalat Jumat yang dimuliakan Allah,

Menilik lembaran sejarah, syariat kewajiban zakat fitrah ini ditetapkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala pada bulan Syakban tahun kedua Hijriah. Semenjak itu, zakat fitrah diposisikan sebagai pengeluaran yang diwajibkan di malam dan hari raya Idulfitri bagi setiap muslim yang hartanya melebih kebutuhan wajar keluarganya. 

Ini adalah wujud syukur atas nikmat keberhasilan menjalankan ibadah puasa Ramadan secara paripurna. Selain bertujuan menghadirkan senyum kebahagiaan bagi kaum duafa di hari raya, zakat disyariatkan guna menyucikan noda-noda dosa selama berpuasa, sehingga jiwa dan raga kita benar-benar bersih layaknya bayi yang baru terlahir dari rahim ibundanya.

Terkait bayi yang masih di dalam kandungan, mereka belum dikenai kewajiban ini. Namun, jika sang bayi terlahir sesaat sebelum tenggelamnya matahari di hari penutup Ramadan, maka zakat fitrahnya sah menjadi wajib ditunaikan. Demikian pula bagi seorang muslim yang mengembuskan napas terakhirnya tepat setelah terbenamnya matahari di penghujung bulan puasa, kewajiban zakat fitrah tetap melekat atas dirinya.

Sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari menegaskan, “Rasulullah SAW mewajibkan zakat fitrah satu sha dari kurma atau sha dari gandum bagi setiap hamba sahaya (budak) maupun merdeka, laki-laki maupun perempuan, kecil maupun besar dari kaum muslimin. Dan beliau memerintahkan agar menunaikannya sebelum orang orang berangkat untuk salat (Id).” (HR Bukhari)

Jamaah Shalat Jumat rahimakumullah,

Syariat Islam telah menetapkan batasan waktu penunaian zakat fitrah yang secara langsung memengaruhi keabsahannya. Secara prinsipil, waktu penyerahan zakat fitrah oleh seorang muzaki dibagi ke dalam lima fase, yakni:

  1. Jawazul Waqti (Waktu Boleh): Yakni rentang waktu di mana kita sudah diizinkan membayarkan zakat, terhitung sejak awal masuknya bulan suci Ramadan.
  2. Wajibul Waqti (Waktu Wajib): Merupakan waktu jatuhnya kewajiban bagi yang belum menunaikannya, yakni tepat pada saat matahari terbenam di hari terakhir bulan Ramadan.
  3. Afdhalul Waqti (Waktu Utama): Yakni waktu yang sangat dianjurkan pencapaian pahalanya, yaitu di pagi hari sebelum berangkat menuju tempat salat Idulfitri.
  4. Makruh Waqti (Waktu Makruh): Yakni waktu penunaian yang dilakukan seusai pelaksanaan salat Idulfitri berlalu, kecuali jika ada uzur syar'i seperti menantikan kerabat atau mustahik yang berhak.
  5. Haromul Waqti (Waktu Haram): Yakni ketika penunaian zakat dilakukan terlambat, yaitu sehari setelah hari raya Idulfitri usai.

 

Sungguh, hakikat di balik ibadah zakat fitrah membawa dampak yang amat besar bagi umat manusia dalam memaknai Idulfitri sebagai hari raya kemenangan. Melaluinya, kita diajarkan untuk saling membagi bahan pangan pokok, mengenyangkan perut yang lapar, serta menumbuhkan sepercik harapan di hati saudara-saudara yang papa. 

Hikmah moralnya begitu luhur: mengajarkan cinta kasih dan empati, menghadiahkan kebahagiaan kepada mereka yang lemah, menghidupkan rezeki para pedagang sembako, dan menanamkan akhlak bahwa setiap butir kebaikan akan senantiasa berbalas kebaikan serta mendekatkan hamba pada rida Allah SWT.

Mengutip pandangan Syekh Yusuf Al-Qardhawi yang merujuk pada pemikiran Al-Kasani, esensi zakat memuat beberapa makna fundamental, di antaranya:

  • Penunaian zakat merupakan instrumen tolong-menolong sesama manusia untuk menopang kehidupan mereka yang rentan dan serba kekurangan. Bantuan tersebut memungkinkan mereka yang lemah untuk tegak kembali menunaikan kewajiban kepada Allah SWT dengan landasan nilai tauhid. Menyiapkan sarana kehidupan agar saudara kita mampu beribadah, hakikatnya adalah kewajiban kita bersama.
  • Membayar zakat berfungsi membersihkan diri dari tumpukan dosa dan memurnikan akhlak dari sifat kikir yang sering kali melekat pada diri manusia, lalu menempa kita menjadi pribadi yang pemaaf lagi dermawan.
  • Zakat merupakan manifestasi syukur atas limpahan nikmat, rahmat, serta kemapanan duniawi yang Allah SWT berikan kepada mereka yang hartanya berlebih. Mensyukuri karunia ini adalah kewajiban yang diikat baik oleh dalil akal maupun syariat hukum Allah SWT. Secara garis besar, rukun penunaian zakat mencakup tiga pemenuhan hak esensial, yakni: Hak fakir miskin yang membutuhkan, hak kemaslahatan masyarakat umum, dan pemenuhan hak Allah SWT.

Pada akhirnya, kita berdoa dan memohon agar Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa melapangkan urusan kita dalam mengamalkan syariat Islam. Semoga ibadah puasa Ramadan dan zakat fitrah yang kita kerjakan mampu menjadi pendorong bagi kita untuk menemukan jati diri yang sesungguhnya, kembali kepada kesucian fitrah, dan merengkuh esensi kehidupan yang penuh berkah.

بارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَاِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْاٰيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ اِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ

Khutbah kedua

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَـقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُوْنَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلٰهَ إِلاَّ اللّٰه وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللّٰه، اَللّٰهُـمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ اللّٰه، أُوْصِيْنِيِ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللّٰه، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. وَقَالَ تَعَالَى يَا اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوْا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. صَدَقَ اللّٰهُ الْعَظِيمْ إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ اَللهُمَّ اِنَّا نَسْئَلُكَ سَلاَمَةً فِى الدِّيْنِ وَعَافِيَةً فِى الْجَسَدِ وَزِيَادَةً فِى الْعِلْمِ وَبَرَكَةً فِى الرِّزْقِ وَتَوْبَةً قَبْلَ الْمَوْتِ وَرَحْمَةً عِنْدَ الْمَوْتِ وَمَغْفِرَةً بَعْدَ الْمَوْتِ. اَللهُمَّ هَوِّنْ عَلَيْنَا فِىْ سَكَرَاتِ الْمَوْتِ وَالنَّجَاةَ مِنَ النَّارِ وَالْعَفْوَ عِنْدَ الْحِسَابِ .رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ. رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّم عَلَى مُحَمَّد تَسْلِيْمًا كَثيْرًا وآخِرُ دَعْوَانَا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Referensi:

  • Dian Adi Perdana, Fatma Tunali, (2020), “Zakat Fitrah: Management, Tradition, and Meaning of Eidal-Fitr”, (Fikri : Jurnal Kajian Agama, Sosial dan Budaya ,Vol. 5 No. 2,)
  • Dr. Hairul Hudaya, M.Ag. (2020), “Fiqh Puasa, Lailatul Qadar dan Zakat Fitrah”, (Kalimantan Selatan; Ruang Karya Bersama)

 

Penulis adalah Mahasiswa Magister Pendidikan Agama Islam UMS. ***

info

Peringatan Plagiarisme

Dilarang mengutip, menyalin, atau memperbanyak isi berita maupun foto dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari Redaksi. Pelanggaran terhadap hak cipta dapat dikenakan sanksi sesuai UU Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dengan ancaman pidana penjara maksimal 10 tahun dan/atau denda hingga Rp4 miliar.

Editor: M Zulfikar A
Sumber: PWM Jateng

Menu