portalbontang.com, Jakarta – Cuaca yang tak menentu belakangan ini bukan sekadar fenomena alam biasa, melainkan peringatan nyata bagi kesiapan finansial kita.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan bahwa Indonesia tengah memasuki fase puncak musim hujan, diperparah dengan fenomena La Niña lemah yang diprediksi bertahan hingga Maret 2026.
Risikonya tak main-main. Banjir bandang di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada akhir November 2025 lalu menjadi bukti betapa rapuhnya harta benda saat alam mengamuk. Ratusan rumah rusak, kendaraan hanyut, dan usaha warga lumpuh seketika.
Melihat tren bencana hidrometeorologi yang kian meningkat, Indonesia Financial Group (IFG), anggota dari Danantara Indonesia (holding pengelola aset negara), mengajak masyarakat untuk mengubah pola pikir.
Sekretaris Perusahaan IFG, Denny S. Adji, menegaskan bahwa di era perubahan iklim ini, memiliki asuransi bukan lagi sekadar gaya hidup atau opsi tambahan.
“Rangkaian peristiwa bencana tersebut menjadi alarm bahwa musibah dapat datang kapan saja. Proteksi asuransi bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan mendesak,” ujar Denny dalam keterangan tertulisnya.
Pelajaran Mahal dari Bali dan Aceh
Data berbicara jujur. Selain tragedi di Sumatera, banjir di Bali pada Agustus 2025 lalu menyisakan kerugian materiil hingga Rp28,9 miliar. Sebanyak 514 bangunan rusak dan kendaraan warga terendam air. Tanpa proteksi, kerugian ini harus ditanggung sendiri oleh korban yang sudah jatuh tertimpa tangga.
Denny menjelaskan, di sinilah peran asuransi bekerja. Bukan untuk menolak bencana, tapi untuk memastikan korban bisa bangkit lebih cepat.
“Asuransi adalah pilar finansial. Ia tidak hanya menyelamatkan nilai kendaraan atau rumah yang rusak, tapi juga menjaga stabilitas ekonomi keluarga agar tidak jatuh miskin mendadak pascabencana,” jelasnya.
Produk yang Relevan dengan Situasi
Sebagai induk holding BUMN di sektor asuransi dan penjaminan, IFG mendorong produk-produk yang relevan dengan kondisi cuaca ekstrem saat ini. Fokusnya ada pada empat pilar perlindungan:
- Asuransi Kendaraan Bermotor: Melindungi dari risiko kerusakan akibat banjir atau pohon tumbang.
- Asuransi Properti: Menjamin perbaikan rumah atau tempat usaha yang terdampak bencana.
- Asuransi Jiwa: Proteksi bagi tulang punggung keluarga.
- Penjaminan UMKM: Menjaga keberlangsungan napas usaha kecil di tengah krisis.
“Asuransi ini investasi atas ketenangan. Jangan anggap ini biaya tambahan (beban), tapi tabungan untuk keberlanjutan masa depan keluarga,” tegas Denny.
Melalui sinergi di bawah naungan Danantara, IFG berkomitmen terus mengedukasi masyarakat. Tujuannya satu: menciptakan masyarakat Indonesia yang tangguh (resilient), yang tidak hancur masa depannya hanya karena satu kali bencana alam. ***