PORTAL BONTANG – Para insinyur di NASA, yang memiliki keahlian dalam pengembangan pesawat ruang angkasa, saat ini tengah mengerjakan sebuah armada robot bawah air.
Tujuan utama mereka adalah untuk mempelajari seberapa cepat perubahan iklim menyebabkan pencairan lapisan es yang luas di sekitar Antarktika.
Penelitian ini juga bertujuan untuk menilai dampak pencairan tersebut terhadap kenaikan permukaan laut.
Baca Juga: Teddy-Marjito Siapkan Program Perlengkapan Sekolah Gratis bagi Warga OKU
Prototipe kendaraan selam, yang tengah dikembangkan oleh Laboratorium Propulsi Jet (JPL) NASA dekat Los Angeles, telah diuji di kamp laboratorium Angkatan Laut AS di Kutub Utara.
Alat ini dijadwalkan akan ditempatkan di bawah Laut Beaufort yang membeku di utara Alaska pada Maret mendatang.
“Robot-robot ini merupakan platform untuk membawa instrumen sains ke lokasi-lokasi yang paling sulit dijangkau di Bumi,” kata Paul Glick, seorang insinyur Robotika JPL dan peneliti utama proyek IceNode, dalam sebuah pernyataan yang dipublikasikan di situs web NASA, dilansir Portalbontang.com dari VOA Indonesia, Sabtu 31 Agustus 2024.
Penelitian ini bertujuan untuk menyediakan data yang lebih akurat dalam mengukur laju pemanasan air laut di sekitar Antarktika yang mencairkan es di wilayah pesisir benua tersebut.
Dengan data ini, para ilmuwan dapat memperbaiki model komputer untuk memprediksi kenaikan permukaan laut di masa depan.
Nasib lapisan es terbesar di dunia ini menjadi fokus utama bagi hampir 1.500 akademisi dan peneliti yang berkumpul pekan ini di Chili selatan untuk menghadiri konferensi ke-11 Komite Ilmiah Penelitian Antarktika.
Analisis JPL yang dipublikasikan pada 2022 mengungkapkan bahwa lapisan es Antarktika telah kehilangan sekitar 12 triliun ton massanya sejak 1997, dua kali lipat dari perkiraan sebelumnya.
NASA menyatakan bahwa jika lapisan es ini mencair sepenuhnya, permukaan laut global akan naik sekitar 200 kaki (60 meter).
Lapisan es Antarktika adalah massa air tawar beku yang mengapung dan membentang jauh dari daratan ke laut.
Lapisan ini terbentuk selama ribuan tahun dan berfungsi sebagai penopang raksasa yang menjaga agar gletser tidak meluncur ke laut.
Citra satelit telah memperlihatkan bahwa bagian luar lapisan es ini telah “pecah” menjadi gunung es pada tingkat yang lebih cepat daripada kemampuan alam untuk mengisi kembali es tersebut.
Baca Juga: Presiden Siap Berkantor di IKN Jika Bandara Sudah Beroperasi
Sementara itu, suhu lautan yang meningkat juga mengikis lapisan es dari bawah.
Fenomena ini diharapkan dapat diteliti dengan tingkat presisi yang lebih tinggi menggunakan wahana IceNode yang dapat tenggelam.
Kendaraan silinder ini memiliki panjang sekitar 8 kaki (2,4 meter) dan diameter 10 inci (25 cm). Alat ini akan dilepaskan melalui lubang bor di es atau dari kapal di laut.
Meskipun tidak dilengkapi dengan penggerak, robot ini akan hanyut mengikuti arus, menggunakan panduan perangkat lunak khusus untuk mencapai “zona pendaratan”, yaitu tempat di mana lapisan air tawar beku bertemu dengan air laut asin dan daratan. Area ini tidak bisa ditembus bahkan oleh sinyal satelit.
Baca Juga: Lapangan TC Sepak Bola Timnas di IKN akan Digunakan Mulai September
“Tujuannya adalah untuk mendapatkan data langsung pada titik pertemuan es dan lautan yang mencair,” kata Ian Fenty, ilmuwan iklim JPL.
Setelah mencapai sasarannya, kapal selam ini akan menjatuhkan pemberatnya dan mengapung untuk menempel pada bagian bawah lapisan es dengan menggunakan “roda pendaratan” bercabang tiga yang keluar dari salah satu ujung kendaraan.
IceNode akan terus merekam data dari bawah es selama satu tahun, termasuk fluktuasi musiman, sebelum melepaskan diri untuk kembali ke laut lepas dan mengirimkan data melalui satelit.
Baca Juga: DPR Tambah Anggaran IKN Sebesar Rp20,32 Triliun, Buat Apa?
Sebelumnya, penipisan lapisan es dipantau melalui altimeter satelit yang mengukur perubahan ketinggian es dari atas.
Selama uji lapangan Maret lalu, prototipe IceNode menyelam hingga 330 kaki (100 meter) ke dalam laut untuk mengumpulkan data salinitas, suhu, dan aliran.
Uji sebelumnya juga dilakukan di Teluk Monterey, California, serta di bawah permukaan musim dingin Danau Superior yang beku, di lepas pantai semenanjung atas Michigan.
Pada akhirnya, para ilmuwan percaya bahwa 10 perangkat ini akan ideal untuk mengumpulkan data dari rongga lapisan es tunggal.
Namun, “kami masih harus melakukan pengembangan dan pengujian lebih lanjut” sebelum merancang jadwal penyebaran skala penuh, kata Glick. ***
***
Penulis: M Zulfikar A | Editor: M Zulfikar A