Seorang Pengendara Motor Tewas Di Tempat. Korban Mutilasi di Malang Ternyata Warga Surabaya. Kasus Pembunuhan di Gunungkidul. Suami… dan lain sebagainya, dan lain sebagainya, adalah di antara deretan headline yang ditampilkan oleh salah satu atau salah dua media-media besar di Indonesia.
Meski sekilas terdapat berita lain, selain berbeda, penulis secara pribadi memang jarang membuka postingan media yang dirasa jauh dari urgensifitas.
Meski tidak segenting Palestina sebagai perbendaharaan (khazain) akhlak sepanjang peradaban manusia, senantiasa diserang dan mengalami krisis kemanusiaan, pembantaian, bahkan genosida, harapannya akhlak masyarakat Indonesia untuk tidak terjadi degradasi lantaran sikap tidak berakhlak suatu kalangan yang berkegiatan baik melalui pemikiran, perdagangan, atau perniagaan lain seantero negeri ini.
Penyajian berita dengan redaksi baik isi berita, judul atau lainnya dengan tidak memerhatikan akibat baik beban moril, etika jurnalistik, juga tanggungjawab personal sebagai bagian dari awak media tidak lagi menjadi prinsip dan pedoman serta dipegang teguh.
Tugas menyampaikan kebenaran dengan cara yang patut dan benar juga bukan lagi menjadi sesuatu yang terpatri dalam menjalankan aktivitas tersebut.
Persoalannya adalah bukan hanya sekedar ketidak patutan yang sedang diidap oleh kalangan tertentu tersebut namun juga kehilangsadaran akan hal semestinya terpatri bahkan terganti kegilaan.
Sikap gila saja yang merepresentasikan pembelokan tugas seorang jurnalis yang sesungguhnya mulia, kepada kehinaan dan jauh dari prinsip-prinsip kebenaran.
Mengapa tak sedikit judul berita di media selalu keras? Mungkin tidak selalu, namun keras yang dimaksud headline di atas sebagai sikap pemberitaan yang frontal dan jauh dari bahasa-bahasa yang santun bahkan dapat menimbulkan kegaduhan justru sering terjadi.
Tidak jarang pemberitaan justru ditanggapi ramai oleh masyarakat (netizen) bukan karena esensi dan isi berita, namun lebih kepada penyusunan redaksi yang jauh dari kebijaksanaan.
Secara spesifik, pertanyaan terhadap sikap pemberitaan media tentu akan tepat jika dijawab dan diselesaikan serta ditanggapi secara jelas oleh pihak-pihak yaitu media-media tersebut.
Adapun artikel ini, jangankan bersifat peringatan, usaha untuk mengajari ikan berenang saja dirasa jauh. Sia-sia saja bahkan merupakan ketidakmungkinan mengingat media bergerak senantiasa dengan sepenuh informasi sebagai sasaran dan perbekalannya.
Terlebih media-media kawakan, besar, dan mainstream, apalah artinya suara yang berasal dari desusan tidak seharga debu yang tertuang dalam artikel ini. Ini hanya sekadar kritik untuk media. ***
Oleh: Nazwar, S. Fil. I., M. Phil. (Penulis merupakan Penulis Lepas Lintas Jogja Sumatera dan Asisten Dosen di Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang)
***
Penulis: Muhammad | Editor: Muhammad