Eufemisme di Ranah Politik: Etika atau Manipulasi?

Penggunaan eufemisme sering sekali kita jumpai di kehidupan sehari-hari tanpa disadari.

M
Eufemisme di Ranah Politik: Etika atau Manipulasi?

portalbontang.com – Penggunaan eufemisme sering sekali kita jumpai di kehidupan sehari-hari tanpa disadari. Eufemisme merupakan bentuk penggunaan bahasa yang diperhalus atau dilembutkan dan biasanya dianggap sebagai cara yang sopan untuk menyampaikan hal- hal yang terdengar sensitif agar tidak terdengar kasar atau pun menyinggung.

Contoh penggunaannya seperti, “dia sudah tua” diganti menjadi “beliau sudah lanjut usia” atau “menjadi pembantu” diganti “menjadi asisten rumah tangga”.

Sekilas penggunaan eufemisme tampak sopan dan penuh empati. Namun, bagaimana jika eufemisme terkadang digunakan untuk menyamarkan sebuah kenyataan.

Dalam dunia politik, pilihan kata bukan hanya soal cara berbicara, tetapi juga strategi. Banyak pejabat atau pembuat kebijakan sengaja menggunakan istilah yang terdengar halus untuk menyampaikan keputusan yang sebenarnya berat bagi masyarakat.

Inilah yang membuat eufemisme menjadi alat yang efektif untuk manipulasi baik untuk menjaga citra, meredam kritik atau pun memanipulasi opini.

Biasanya, bahasa yang dihaluskan untuk kebijakan yang sebenarnya membawa dampak negatif. Seperti “pemotongan anggaran” menjadi “efisiensi anggaran” atau “kenaikan harga sembako dan BBM” menjadi “penyesuaian harga pasar”, hingga “kenaikan pajak” menjadi “optimalisasi pendapatan negara”.

Dengan kata lain eufemisme juga dapat menjadi topeng, seakan perubahan tersebut adalah sesuatu yang ringan dan wajar. Masalahnya bukan pada kata halusnya, tetapi pada niat di balik penggunaannya. Jika eufemisme digunakan untuk menjaga ketenangan publik agar tidak panik, maka hal itu masih dapat dimengerti.

Namun, ketika kata halus digunakan untuk menutupi sebuah fakta dan mengaburkan dampak suatu kebijakan, hingga untuk mengambil keputusan yang hanya menguntungkan sebelah pihak saja, eufemisme bisa berubah menjadi alat manipulasi. Masyarakat jadi sulit memahami kondisi sebenarnya karena pesan yang disampaikan tidak transparan.

Penggunaan eufemisme tidak dapat dilepaskan dari nilai etika dan kesopanan dalam komunikasi. Ketika eufemisme digunakan untuk kepentingan tertentu, bukan lagi kelembutan yang tercipta, melainkan kaburnya kebenaran sebagai bentuk manipulasi.

Masyarakat berhak menerima informasi apa adanya agar bisa menilai kebijakan secara objektif. Karena itu, kita perlu lebih kritis terhadap istilah-istilah politik yang terdengar “aman”. Di balik kata yang manis, sering kali tersimpan realitas yang pahit.

Dengan memahami hal ini, kita dapat membaca makna sebenarnya di balik komunikasi politik dan tidak mudah terpengaruh oleh permainan kata. ***

*) Penulis adalah Mahasiswa Program Studi Sarjana (S1) Farmasi, Fakultas Farmasi, Universitas Mulawarman asal Bontang

info

Peringatan Plagiarisme

Dilarang mengutip, menyalin, atau memperbanyak isi berita maupun foto dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari Redaksi. Pelanggaran terhadap hak cipta dapat dikenakan sanksi sesuai UU Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dengan ancaman pidana penjara maksimal 10 tahun dan/atau denda hingga Rp4 miliar.

Editor: M Zulfikar A

Menu