PORTALBONTANG.com – Warga Palestina dengan tegas menolak usulan mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang ingin memindahkan mereka ke negara lain.
Mereka bersikeras untuk tetap bertahan di tanah kelahiran mereka, meskipun terus menghadapi tekanan dari Israel, sekutu utama AS.
Trump sebelumnya mengusulkan pemindahan warga Gaza ke negara-negara tetangga seperti Mesir dan Yordania dengan dalih stabilitas keamanan.
Baca Juga: Prabowo Pangkas Anggaran Rp306,6 Triliun di APBN 2025 untuk Program Prioritas Nasional
Namun, usulan ini dikecam banyak pihak karena dinilai sebagai bentuk pengusiran massal yang melanggar hak asasi manusia.
Kritik terhadap gagasan ini semakin tajam mengingat kebijakan Israel yang semakin agresif dalam pembangunan pemukiman di wilayah Gaza.
Tekad Warga Gaza untuk Bertahan
Saqr Maqdad, warga Gaza Utara, menegaskan bahwa ia tidak akan meninggalkan tanahnya, meskipun kehancuran terjadi di sekelilingnya.
Baca Juga: Warga Palestina Kembali ke Gaza, Trump Kembali Dorong Pemindahan ke Negara Tetangga
“Gagasan relokasi yang disebutkan Trump hanyalah angan-angan. Setelah semua yang kami alami, apakah dia pikir kami akan meninggalkan rumah kami begitu saja? Ini tanah kami, dan kami akan tetap di sini,” ujar Maqdad kepada Al Jazeera pada Selasa, 28 Januari 2025.
Hal serupa diungkapkan Abu Suleiman Zawaraa, seorang petani di Khan Younis, Gaza Selatan. Meskipun ladangnya hancur akibat serangan Israel, ia tetap menanam zaitun dan jeruk sebagai simbol perlawanan.
“Kami telah bertahan dari serangan, kehancuran, dan kehilangan. Namun, itu tidak akan membuat kami menyerah. Hidup di antara puing-puing adalah tantangan yang kami hadapi dengan tekad,” katanya.
Baca Juga: Kepercayaan Konsumen AS Terus Merosot Pasca Pemilu, Apa Penyebabnya?
Sejak Israel mulai melancarkan serangan ke Gaza pada 7 Oktober 2023, lebih dari 46.700 warga Palestina tewas, termasuk 18.000 anak-anak. Hampir 1,9 juta orang mengungsi, sementara infrastruktur kota mengalami kerusakan parah.
Laporan menunjukkan bahwa 92% jalan utama dan 84% fasilitas kesehatan telah hancur akibat serangan tersebut, memperburuk kondisi kemanusiaan di wilayah itu.
Menolak Sejarah Terulang: Mengingat Nakba 1948
Abu Suleiman menegaskan bahwa pengalaman pahit Nakba tahun 1948 masih membekas di benak warga Palestina. Saat itu, sekitar 750.000 warga Palestina dipaksa meninggalkan rumah mereka setelah berdirinya Israel.
“Kami memahami betul apa yang terjadi saat itu. Mereka yang pergi tidak pernah kembali. Kami tidak akan membiarkan sejarah terulang kembali,” tegasnya.
Baca Juga: Banjir Samarinda Meluas, Ribuan Warga Terdampak dan Ratusan Rumah Terendam
Banyak warga Gaza memilih bertahan meskipun ada kesempatan untuk meninggalkan wilayah tersebut. Bagi mereka, mempertahankan tanah air adalah bagian dari identitas dan perjuangan mereka.
Israa Mansour, seorang ibu empat anak yang kini tinggal di tenda darurat setelah rumahnya hancur, juga menolak gagasan relokasi.
“Kami memilih bertahan bukan karena tidak punya pilihan, tetapi karena ini adalah rumah kami,” ujarnya.
Namun, ia menegaskan bahwa untuk dapat bertahan, warga Palestina membutuhkan akses terhadap pendidikan, layanan kesehatan, dan bantuan kemanusiaan.
Baca Juga: Thailand Bebaskan Biaya Transportasi Umum demi Atasi Polusi Udara
“Tidak mungkin kami diminta bertahan tanpa dukungan dasar. Rakyat Gaza butuh bantuan agar bisa melanjutkan perjuangan mereka,” pungkasnya.
Trump Kembali Tegaskan Rencana Relokasi
Donald Trump kembali mengemukakan gagasan pemindahan warga Palestina ke lokasi yang dianggapnya lebih aman, seperti Mesir atau Yordania. Pernyataannya itu kembali menuai kritik tajam.
Baca Juga: Terungkap! Kronologi Polisi Temukan Potongan Jasad Uswatun Khasanah di 3 Kota
Pada Senin, 27 Januari 2025, Trump menyatakan bahwa Gaza harus “dibersihkan” setelah konflik panjang antara Israel dan Hamas yang telah berlangsung lebih dari 15 bulan.
Dalam wawancara dengan AFP pada Rabu, 29 Januari 2025, Trump mengatakan bahwa ia ingin warga Gaza hidup di tempat yang lebih aman, tanpa gangguan kekerasan.
“Anda tahu, jika Anda melihat Jalur Gaza, yang sudah bertahun-tahun menjadi neraka… selalu ada kekerasan yang terkait dengan wilayah itu,” ujarnya.
Saat ditanya mengenai dampak gagasannya terhadap solusi dua negara, Trump menyebut bahwa ia akan segera bertemu dengan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu.
“Dia akan datang ke sini untuk bertemu dengan saya,” katanya.
Trump juga menyatakan bahwa ia telah berbicara dengan Raja Yordania Abdullah II dan Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi mengenai kemungkinan pemindahan warga Palestina dari Jalur Gaza.
“Saya berharap dia mau menampung beberapa. Kita telah banyak membantu mereka, dan saya yakin dia akan membantu kita,” ujarnya merujuk pada al-Sisi.
Baca Juga: Sejarah Perayaan Imlek yang Ternyata Hanya Terjadi di Indonesia karena Terjadinya Diskriminasi
“Seperti yang mereka katakan, ini adalah lingkungan yang sulit, tapi saya pikir dia akan melakukannya, dan saya pikir Raja Yordania juga akan melakukannya,” tambahnya.
Mesir dan Yordania Tolak Relokasi Warga Gaza
Pemerintah Mesir dan Yordania dengan tegas menolak gagasan Trump untuk memindahkan warga Gaza.
Kairo menyatakan dukungan penuh bagi hak rakyat Gaza untuk tetap tinggal di tanah mereka sendiri. Sementara itu, Menteri Luar Negeri Yordania, Ayman Safadi, menegaskan bahwa pemindahan paksa warga Palestina adalah hal yang tidak dapat diterima.
Baca Juga: Belum Ada 24 Jam, Medali Jonatan Christie Rusak, Panitia Indonesia Masters Beri Tanggapan
Presiden Palestina Mahmoud Abbas turut menyampaikan penolakan keras terhadap rencana Trump.
“Warga Palestina tidak akan meninggalkan tanah dan tempat-tempat suci mereka,” tegas Abbas.
Hampir 2,4 juta penduduk Gaza telah mengungsi akibat perang yang berlangsung sejak Oktober 2023. Saat ini, gencatan senjata selama enam pekan sedang diberlakukan di Jalur Gaza, dengan skema pertukaran sandera antara Hamas dan tahanan Palestina. ***
***
Penulis: M Zulfikar A | Editor: M Zulfikar A