6 Mitos Keliru tentang Rip Current yang Justru Berbahaya, Termasuk Cara Penyelamatan yang Salah

Rip current sering disalahpahami. Kenali 6 mitos rip current yang justru berbahaya, termasuk cara penyelamatan yang salah.

R
6 Mitos Keliru tentang Rip Current yang Justru Berbahaya, Termasuk Cara Penyelamatan yang Salah

PORTALBONTANG.com – Sebanyak 13 siswa SMP Negeri 7 Mojokerto terseret ombak di Pantai Drini, Gunungkidul, Yogyakarta, akibat fenomena rip current yang berbahaya.

Dari insiden tersebut, 9 siswa berhasil diselamatkan, sementara 4 lainnya dinyatakan meninggal dunia.

“Sebanyak 13 korban bermain air di Pantai Drini tepat di jalur rip current, yang sebenarnya merupakan jalur kapal. Petugas sudah berulang kali mengimbau, tetapi tidak dihiraukan,” ungkap Surisdiyanto, Sekretaris Satlinmas Rescue Istimewa Wilayah Operasi II Pantai Baron, dalam keterangannya pada Selasa lalu, 28 Januari 2025.

Baca Juga: Netflix Umumkan Squid Game 3 Tayang 27 Juni 2025, Gi Hun dan Front Man Bersiap Hadapi Konflik Terbesar

Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), rip current adalah arus laut yang kuat dan bergerak menjauh dari pantai.

Fenomena ini terjadi akibat pertemuan ombak sejajar dengan garis pantai yang kemudian menciptakan arus balik berkekuatan tinggi.

Rip current bisa mencapai kecepatan lebih dari 2 meter per detik. Bahkan, menurut BMKG, arus ini cukup kuat untuk menyeret perenang profesional sekalipun ke laut lepas.

Kenapa Tidak Semua Pantai Memiliki Tanda Bahaya Rip Current?

Baca Juga: Insidious 6 Ditunda hingga 2026, Penggemar Franchise Film Horor Harus Menunggu Lebih Lama

Setelah tragedi ini mencuat, banyak netizen mempertanyakan mengapa tidak semua pantai memberikan tanda peringatan di area yang berisiko terkena rip current.

BMKG menjelaskan bahwa mengidentifikasi rip current di suatu pantai memang tidak mudah. Keberadaannya bergantung pada kondisi ombak, struktur pantai, dan gelombang.

Apakah Semua Pantai Memiliki Rip Current?

Baca Juga: Modifikasi Cuaca Cegah Banjir di Sejumlah Wilayah, LAPAN Ingatkan Risiko Jika Tak Efektif

Tidak semua pantai memiliki rip current. Pantai dengan ombak kecil atau tanpa ombak sama sekali umumnya tidak memiliki fenomena ini.

Rip current cenderung terbentuk di celah antara gundukan pasir, dermaga, atau terumbu karang, yang berfungsi sebagai penghalang ombak untuk kembali ke laut.

Arus ini bisa berbeda-beda, terkadang berhenti tepat di luar garis pecahnya gelombang, tetapi dalam beberapa kasus, rip current dapat mendorong seseorang hingga ratusan meter ke tengah laut.

6 Mitos Keliru tentang Rip Current yang Justru Berbahaya

Meski sering dibahas, banyak orang masih memiliki pemahaman keliru tentang rip current. Beberapa mitos bahkan dapat meningkatkan risiko kecelakaan jika dipercaya.

Rip Current Tidak Berbahaya bagi Perenang Handal

Mitos: Perenang profesional dapat melawan rip current dan selamat.
Fakta: BMKG dan National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) menegaskan bahwa rip current bisa menyeret perenang profesional maupun atlet renang sekalipun ke laut.

Baca Juga: PPDB Jadi SPMB 2025, Tambah Jalur Prestasi untuk Pengurus OSIS dan Pramuka, Begini Penjelasan Mendikdasmen

Rip Current Menenggelamkan Korban

Mitos: Rip current menarik korban ke dasar laut dan menyebabkan tenggelam.
Fakta: Rip current tidak menarik korban ke bawah, melainkan menyeret mereka menjauh dari bibir pantai, melewati ombak yang pecah.

Bergandengan Tangan adalah Cara Penyelamatan yang Efektif

Mitos: Membentuk rantai manusia dengan bergandengan tangan adalah cara terbaik menyelamatkan korban.
Fakta: Metode ini justru sangat berbahaya karena dapat membuat lebih banyak orang terseret ke laut.

Baca Juga: Powerbank Diduga Sebabkan Kebakaran Air Busan, Ini Aturan Membawa Powerbank di Pesawat

Rip Current Selalu Bisa Dikenali Secara Visual

Mitos: Rip current selalu terlihat jelas.
Fakta: Rip current sering kali sulit dikenali. Namun, ada beberapa tanda yang dapat diperhatikan:

  • Celah sempit air yang lebih gelap diapit oleh ombak pecah.
  • Saluran air yang tampak berbeda dengan sekitarnya.
  • Warna air berbeda akibat pasir dan sedimen yang terbawa ke laut.
  • Aliran busa ombak dan rumput laut yang terus-menerus terbawa arus.
  • Arus air yang menjauh dari pantai dengan kecepatan tinggi.

Baca Juga: STY Pensiun Sementara dari Pelatih, Kini Jadi Duta Polisi Korsel dan Muncul di Film Indonesia!

Rip Current Hanya Terjadi saat Cuaca Buruk

Mitos: Rip current hanya muncul saat badai atau cuaca buruk.
Fakta: Rip current bisa terbentuk kapan saja, bahkan saat cuaca cerah dan laut tampak tenang.

Ombak Kecil Berarti Aman untuk Berenang

Mitos: Jika ombak kecil, pantai pasti aman untuk berenang.
Fakta: Ombak kecil justru bisa menjadi tanda adanya rip current yang tidak kasat mata.

Baca Juga: Warga Gaza Tolak Usulan Relokasi Trump: Mereka yang Pergi Tak Pernah Kembali

Kesimpulannya, rip current adalah fenomena alam yang berbahaya dan sering kali sulit dikenali. Mitos-mitos yang beredar justru dapat meningkatkan risiko kecelakaan di laut.

Oleh karena itu, penting untuk selalu memahami kondisi pantai, mengikuti arahan petugas, dan tidak mengabaikan peringatan tentang area berbahaya. ***

 

***
Penulis: M Zulfikar A | Editor: M Zulfikar A

info

Peringatan Plagiarisme

Dilarang mengutip, menyalin, atau memperbanyak isi berita maupun foto dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari Redaksi. Pelanggaran terhadap hak cipta dapat dikenakan sanksi sesuai UU Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dengan ancaman pidana penjara maksimal 10 tahun dan/atau denda hingga Rp4 miliar.

Editor: Redaksi Portal Bontang

Menu