Batik Beras Basah: Jejak Gigih Wiji ‘Ewied’ Rahayu, dari Bontang Menembus Batas

Kisah Inspiratif Ewied, Pencetus Batik Beras Basah Bontang

A
Batik Beras Basah: Jejak Gigih Wiji ‘Ewied’ Rahayu, dari Bontang Menembus Batas

portalbontang.com – Sepuluh tahun lalu, Wiji Rahayu, yang karib disapa Ewied, memulai sebuah petualangan. Bukan di alam bebas, melainkan di atas selembar kain putih. Niatnya satu: melahirkan batik khas Bontang. Namun, kanvas itu tak mudah ditaklukkan.

“Tahun 2015 saya mulai mencoba membatik. Tidak mudah karena banyak sarana yang diperlukan tidak tersedia di Kota Bontang. Tapi keinginan untuk berkreasi begitu besar. Harus berburu ke Jawa. Perlu tenaga dan biaya,” kata Ewied mengawali kisahnya.

Itu adalah titik nol. Titik di mana niat dan bakat diuji oleh kenyataan. Ewied tak menyerah. Ia terus berkreasi, mengikuti pameran-pameran kecil, hingga akhirnya kreasi itu dilirik oleh Pupuk Kaltim yang kemudian merangkulnya sebagai mitra binaan.

Jalannya semakin lebar. Semangat belajarnya kian besar. Sebagai mitra binaan, Ewied menyerap setiap ilmu dari berbagai pelatihan yang diselenggarakan Pupuk Kaltim. Istri dari Mudjiono ini tak menyia-nyiakan kesempatan; ia langsung mempraktikkan, berinovasi, dan memanfaatkan setiap peluang. Kualitas dan identitas kedaerahan menjadi acuannya.

Bahkan, sertifikat Standar Nasional Indonesia (SNI) yang ia pelajari dalam sebuah pelatihan, langsung ditetapkan sebagai impian yang harus segera diwujudkan.

Makna di Balik Nama ‘Beras Basah’

Jalan yang semakin lebar itu butuh identitas yang kuat. Mencari nama yang kelak menjadi branding bagi karyanya bukanlah soal sederhana. Setelah memilah dan memilih, nama “Beras Basah” ditetapkan.

Bagi Ewied, nama ini adalah representasi dari tanah tempat ia berpijak.

“Saya harus dapat mengenalkan Kota Bontang dalam berkarya. Pulau Beras Basah adalah ikon pariwisata Kota Bontang. Saya mempunyai harapan nama batik yang saya ciptakan menjadi lebih mudah dikenal dan familiar,” jelasnya.

Namun, bagi ibu dua anak ini, Beras Basah bukan sekadar penanda geografis. Ada filosofi yang menjadi penguat langkah. “Beras itu buat saya bermakna kemakmuran. Sedangkan, Basah itu bermakna kesuburan. Saya berharap makna tersebut menyertai perjalanan Batik Beras Basah,” harapnya penuh keyakinan.

Harapan itu terwujud. Batik Beras Basah kian dikenal. Karyanya kini tak hanya menjadi rujukan cendera mata wisatawan, tetapi juga telah dipercaya menjadi seragam di berbagai kantor kedinasan, baik di Bontang maupun di tingkat Kalimantan Timur.

Komitmen Hijau yang Terbayar Sertifikasi

Batik Beras Basah: Jejak Gigih Wiji ‘Ewied’ Rahayu, dari Bontang Menembus Batas
Berbagai desain Batik Beras Basah karya Ewied (A. Hakim/Portalbontang.com)

Di galeri Batik Beras Basah, mata dimanjakan oleh aneka motif berciri khas biota laut, flora, dan fauna Kaltim. Ewied menawarkan pilihan produk dengan warna sintetis maupun pewarna alami. Pilihan kedua inilah yang menjadi komitmennya.

“Menggunakan warna alami itu prosesnya lebih lama dan biayanya lebih mahal,” akunya. Ia memanfaatkan kekayaan alam sekitar seperti ulin, daun ketapang, hingga tanaman Indigofera tinctoria (tarum atau nila).

“Akan tetapi, melalui praktik ini saya merasakan kenyamanan yang berbeda karena dapat memanfaatkan lingkungan alami yang sangat ramah lingkungan,” jelas Ewied.

Komitmen ini bukan sekadar kata-kata. Sebagai bentuk kepedulian, Ewied tak hanya gencar mengedukasi masyarakat tentang produk alami melalui media sosialnya (@batikberasbasah_bontang dan TikTok ewied26), tetapi juga menerapkannya dalam proses produksi.

Prinsip ramah lingkungan ini diwujudkan melalui pembangunan IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah) yang berstandar, serta pengelolaan limbah padat dan cair. Limbah malam bekas bahkan diolah kembali, mencerminkan semangat ekonomi sirkular.

Maka, impiannya akan SNI yang dicita-citakan di awal kariernya pun terbayar lunas. Batik Beras Basah telah tersertifikasi SNI sejak 2016 dan diperbarui pada 2021.

Tak berhenti di situ, komitmen hijaunya diganjar pengakuan resmi. Pada 2024, usahanya meraih sertifikasi Standar Industri Hijau (SIH) dari Kemenperin. Dua tahun sebelumnya, label Batikmark dari Balai Besar Batik dan Kerajinan Kemenperin juga telah diraih, sebagai tanda otentisitas batik tulis, cap, dan kombinasinya.

“Pengakuan-pengakuan tersebut adalah hasil kerja keras. Tidak mudah. Penuh perjuangan dan doa. Kami harus terus menjaga kualitas dengan tetap ramah lingkungan,” tekadnya.

Suka Duka dan Karyawan ‘Rasa’ Keluarga

Di balik lembaran kain dan sertifikasi, ada denyut nadi di ruang produksi Batik Beras Basah. Mereka adalah para karyawan, yang mayoritas adalah ibu rumah tangga berusia di atas 40 tahun. Sebagian merupakan tulang punggung keluarga.

“Buat saya, semua karyawan adalah bagian dari keluarga. Karyawan itu aset yang harus saya rangkul dengan penuh cinta,” tutur Ewied.

Dengan konsep kekeluargaan, Ewied membangun kedekatan yang tulus. Masukan dan teguran positif mengalir dua arah. “Kalau ada rezeki lebih, tentu saya akan berbagi dengan sukarela,” tambahnya.

Kebersamaan inilah yang menjadi kekuatan saat duka melanda. Ewied tak menampik, tantangan terberat adalah mempertahankan agar dapur tetap mengepul.

“Masa Covid tentu menjadi tantangan yang luar biasa. Produksi terhenti, permintaan relatif berhenti,” kisahnya.

Saat masker menjadi komoditas vital, Ewied memutar otak. Kain perca sisa produksi ia sulap menjadi masker batik yang khas. “Ribuan masker terjual dan dipesan oleh perusahaan. Alhamdulillah, lumayan untuk mengisi amunisi.”

Dukanya tak hanya pandemi. Ketergantungan bahan baku dari Jawa sering kali membuatnya waswas. “Pesanan batik banyak, deadline sudah di depan mata, tapi material membatik seperti pewarna sintetis belum juga tiba. Terkadang perlu waktu karena bergantung kondisi transportasi laut.”

Namun, semua duka itu, menurutnya, sepadan dengan sukacita yang ia rasakan. “Saya menemukan passion saya di kreasi batik. Saya sangat bahagia dalam berproses,” katanya. Baginya, bisa berbagi ilmu dengan karyawan dan masyarakat, serta melihat karyanya dipercaya dan dipakai orang, adalah kebahagiaan yang tak ternilai.

Jejak Langkah yang Didukung Bank Indonesia

Dalam perjalanannya, kiprah dan eksistensi Batik Beras Basah ternyata mendapat pantauan dari Bank Indonesia (BI) Provinsi Kalimantan Timur.

“Saya sangat bersyukur. Sudah sekitar enam tahun ini Batik Beras Basah menjadi mitra binaan dan mendapat pendampingan yang luar biasa dari Bank Indonesia Kaltim,” ujarnya.

Menurut Ewied, BI membuka banyak kesempatan. Pelatihan, kesempatan pameran di berbagai even, hingga kepercayaan untuk berbagi pengalaman dengan para pembatik lain di Kaltim.

“Kami, para penggiat wastra hijau, mendapat pelatihan dan pendampingan sampai ke Balai Besar Batik dan Kerajinan di Yogyakarta,” ungkapnya.

Ewied bahkan diberikan kesempatan berbagi pengalaman dalam pelatihan UMKM Wastra Hijau inisiasi BI Kaltim pada Juni 2025 lalu di Bontang, di mana para peserta praktik langsung pewarnaan alami di galerinya.

Dukungan itu, lanjutnya, terasa begitu nyata dengan kehadiran langsung Deputi II Perwakilan BI Kaltim, Bayu Adi Hardianto, dalam berbagai kesempatan.

Puncak kebanggaan itu akan hadir di perhelatan “Kaltim Paradise of The East” pada 5-8 November 2025 di Samarinda. Selain disertakan dalam pameran, akan diluncurkan buku “Wastra Hijau Kalimantan Timur” oleh Bank Indonesia.

“Saya merasa sangat bangga karena eksistensi Batik Beras Basah dan penggiat wastra hijau se-Kaltim didokumentasikan dalam buku. Buku itu adalah kisah perjuangan, doa, dan harapan kami,” ujarnya bahagia.

Terus Berjuang, Terus Menginspirasi

Dedikasi Ewied memang telah menembus batas. Pada 2023, ia diberikan kesempatan oleh Balai Besar Batik dan Kerajinan Yogyakarta untuk berbagi pengalaman dengan pembatik se-Indonesia. Pada 2024, karyanya terbang hingga ke Kopenhagen, Denmark, bersama Dinas Pariwisata Kaltim.

Rentetan prestasi di ajang Dekranasda Award Provinsi Kaltim (Juara 2 Kategori Serat Alam 2021, Juara 1 Kategori Batik 2022, dan Juara 2 Kategori Batik 2023) seakan menjadi penegas kualitasnya.

Wiji ‘Ewied’ Rahayu adalah sosok yang ramah, antusias, namun tegas dalam prinsip berkarya. Jejak langkahnya mengajarkan bahwa tak ada pekerjaan tanpa perjuangan.

“Saya sangat bersyukur atas segala pencapaian. Prestasi ini menjadi pemantik semangat untuk terus berkarya,” katanya.

Perjuangan itu belum usai. “Saya terus berjuang dan bersemangat. Dalam waktu yang bersamaan, saya berkomitmen untuk dapat berbagi pengalaman dan motivasi berkarya kepada para pelajar, generasi muda, dan masyarakat,” pungkasnya penuh semangat.

Bagi yang ingin melihat langsung karya-karya terbaiknya, Galeri Batik Beras Basah terbuka di Jalan S. Parman RT 027, Kelurahan Gunung Telihan, Kota Bontang. ***

info

Peringatan Plagiarisme

Dilarang mengutip, menyalin, atau memperbanyak isi berita maupun foto dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari Redaksi. Pelanggaran terhadap hak cipta dapat dikenakan sanksi sesuai UU Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dengan ancaman pidana penjara maksimal 10 tahun dan/atau denda hingga Rp4 miliar.

Menu