Portalbontang.com, Pekalongan - Tepuk tangan riuh bergema di aula sebuah hotel di Kota Pekalongan, Selasa (12/5/2026). Di tengah suasana haru pelepasan siswa kelas 12 SMK Muhammadiyah Pekalongan, sepasang mata tertuju pada satu sosok pemuda.
Ia adalah Revano. Didampingi sang ibu, Silvia, langkahnya tegap menuju panggung kehormatan.
Pemuda keturunan Tionghoa ini bukan sekadar lulusan biasa. Ia berhasil menorehkan prestasi sebagai lulusan terbaik kedua di jurusan Teknik dan Bisnis Sepeda Motor.
Baca Juga: Penanganan Kasus Hantavirus di DKI Jakarta Terkendali, Kontak Erat Dipantau 14 Hari
Namun, ada hal lain yang membuatnya sangat istimewa. Revano merupakan satu-satunya siswa beragama Katolik di sekolah berbasis Islam tersebut.
Siapa sangka, keraguan yang sempat membayangi di awal masa pendaftaran kini sirna. Ia justru membawa pulang segudang kenangan manis, keahlian mesin, hingga tiket magang ke Jepang.
Pilihan Revano melabuhkan masa putih abunya di SMK Muhammadiyah bermula dari sebuah minat murni. Ia sangat menyukai dan ingin mendalami dunia otomotif.
Di Pekalongan, menurutnya, hanya ada dua sekolah yang memiliki jurusan teknik sepeda motor dengan reputasi mumpuni. Pilihan hatinya pun jatuh pada SMK Muhammadiyah.
Baca Juga: Atasi Antrean Mengular, Pemkot Bontang Mulai Tertibkan Penyaluran BBM Bersubsidi
“Yang bagus kan SMK Muhammadiyah, saya pilih di sini,” ungkap Revano menceritakan alasan sederhananya.
Keputusan berani itu terbukti tepat. Tiga tahun menimba ilmu, ia merasa diterima dengan tangan terbuka oleh seluruh ekosistem sekolah.
“Kesannya baik, teman-teman dan guru semuanya baik-baik,” tambahnya dengan senyum simpul.
Baca Juga: Bule-Bule Vegan di Amerika Kepincut Lezatnya Olahan Tempe Nusantara
Sebagai siswa minoritas, hak-hak spiritual Revano tak pernah dikebiri. Pihak sekolah secara khusus memfasilitasi guru agama Katolik untuk mendampingi proses belajarnya.
Untuk kegiatan praktik keagamaan, ia bahkan diarahkan dan difasilitasi untuk bergabung di SMAN 3 Pekalongan.
“Selama di sekolah tidak ada diskriminasi apa pun, paling teman bercanda masih normal. Di sini pembelajarannya enak, setelah lulus saya mau berangkat ke Jepang,” tuturnya penuh semangat.
Kisah haru tak hanya milik Revano. Sang ibu, Silvia, turut merasakan getar kebahagiaan yang begitu mendalam.
Baca Juga: Kemendikdasmen Pastikan Tidak Ada PHK Massal Guru Non-ASN pada 2027
Awalnya, naluri keibuannya sempat diliputi keraguan saat sang anak bersikeras masuk ke lingkungan sekolah berlatar belakang Muslim.
“Saya tanya ke anak saya bagaimana, kamu bersedia tidak, karena kita ada di lingkungan muslim. Dia jawab tidak apa-apa,” kenang Silvia.
Keraguan itu runtuh seketika saat ia bertemu langsung dengan Kepala SMK Muhammadiyah. Keterbukaan pihak sekolah untuk menyelaraskan pelajaran agama membuat hatinya mantap.
Baca Juga: Viral Kontroversi Juri LCC 4 Pilar MPR RI Kalbar, SMAN 1 Pontianak Tuntut Klarifikasi
Di atas panggung kelulusan, dengan suara bergetar dan senyum bahagia, Silvia menumpahkan rasa syukurnya di hadapan para hadirin.
“Selama sekolah sampai kelas tiga tidak ada persoalan, tidak ada perundungan maupun rasis. Anak saya mendapatkan pelajaran Katolik, tidak ada paksaan harus ikut pelajaran agama Islam,” ungkapnya lega.
Bahkan, Silvia melihat transformasi positif pada diri putranya. Revano yang dulu kerap abai pada tugas sekolah saat di bangku SD dan SMP, berubah menjadi remaja yang disiplin.
Baca Juga: PDM Bontang Gelar Muspimda 2026, Bahas Pengesahan Ranting Hingga Persiapan Muswil Kaltim
Kini, putranya telah mahir membedah mesin sepeda motor secara mandiri. Tetangga sekitar pun kerap mempercayakan kendaraan mereka untuk diperbaiki oleh tangan terampil Revano.
Kepala SMK Muhammadiyah Pekalongan, Khusnawan, membuktikan bahwa pendidikan sejatinya tidak mengenal sekat keyakinan.
“Muhammadiyah itu luas. Pendidikan Muhammadiyah untuk siapa saja. Pendidikan agama kami pilah, kami carikan guru agamanya, dan tetap ada fasilitas agama,” tegas Khusnawan.
Ia menambahkan, keberadaan Revano justru membawa warna positif di dalam kelas. Keahliannya di bidang otomotif sukses memotivasi teman-teman sebayanya untuk ikut berprestasi.

Baca Juga: Liga AAFI Regional Bontang 2026 Resmi Bergulir di Indoor PKT, Incar Tiket Menuju Provinsi
Kini, Revano tengah bersiap merajut asa ke Negeri Sakura lewat beasiswa magang bergengsi dari Lembaga Pelatihan Kerja (LPK).
Dari ruang bengkel SMK Muhammadiyah, Revano mengajarkan satu hal berharga. Bahwa toleransi dan ruang belajar yang inklusif selalu menjadi fondasi terbaik untuk menggapai masa depan. ***