Denting Tingkilan di Tanah Guntung: Dedikasi Ridwan Yin Sindat Menjaga Api Warisan di Tengah Arus Modernisasi

Tingkilan, sebuah kesenian musik tradisional Kutai Melayu yang seolah menjadi mesin waktu. Di baliknya ada sosok pemuda bernama Ridwan Yin Sindat.

J
Ridwan Yin Sindat Sedang Memainkan Alat Musik Gambus.
Ridwan Yin Sindat Sedang Memainkan Alat Musik Gambus. | Foto: Dok/Pribadi

Portalbontang.com, Bontang - Di tengah terik sang surya yang membakar langit Guntung, sebuah fragmen masa lalu mencoba mencari celah untuk tetap bernapas. Di antara riuhnya percakapan manusia dan kepungan deru mesin industri yang menjadi denyut nadi Kota Bontang, sebuah suara menyeruak, ganjil namun memikat. Ia bukan dentum bass elektrik yang memekakkan, melainkan sebuah percakapan mesra antara kayu, senar, dan jemari yang menari. Di dalamnya, bait-bait pantun Kutai melantun bersahut-sahutan bagai ombak pembawa leluhur ke tepian zaman.

Itulah Tingkilan, sebuah kesenian musik tradisional Kutai Melayu yang seolah menjadi mesin waktu. Ia membawa siapa pun yang menyimaknya pulang ke pelukan akar tradisi yang paling autentik. Di balik instrumen gambus yang guratan kayunya menyimpan ribuan cerita, duduk seorang pemuda bernama Ridwan Yin Sindat. Penampilannya tenang, namun setiap petikannya ialah pernyataan perang terhadap lupa. Di usianya yang baru menginjak 26 tahun, sebuah usia di mana banyak pemuda lebih memilih mabuk dalam hingar-bingar tren global, Ridwan justru memilih menjadi penjaga api yang hampir padam.

Warga Jalan Tari Gantar 6 RT 02 ini menjadi “penjaga gerbang” yang memastikan bahwa di tanah Guntung, Tingkilan belum kehilangan napasnya, meski zaman terus berusaha mencekiknya. Cinta Ridwan pada Tingkilan tidak lahir dari ambisi yang dipaksakan, melainkan dari benih yang tertanam secara organik di ruang tamu rumahnya. Ingatannya sering kali mengembara kembali ke masa lalu, saat ia masih seorang bocah kelas tiga Sekolah Dasar yang belum mengerti beratnya beban sebuah identitas.

Baca Juga: Disdikbud Bontang Tegaskan Kemitraan Orang Tua Jadi Indikator Penting Pendidikan

Di saat kawan-kawannya asyik mengejar layang-layang, Ridwan kecil justru memilih menjadi bayang-bayang orang tuanya, mengekor ke tempat latihan musik tradisional. “Mungkin karena keseharian orang tua memainkan, jadi saya tertarik dari awal lihat orang tua memainkan alat musik,” kenang Ridwan.

Orang tuanya yang merupakan putra-putri asli Guntung, tidak pernah memberinya instruksi kaku, melainkan membiarkan telinganya akrab dengan rima pantun dan harmoni gambus bagaikan nina bobo setiap hari.

Baginya, suara Tingkilan adalah aroma rumah. Ia adalah bagian dari napas yang dihirup sebelum ia bahkan tahu cara mengejanya. Namun, menguasai “bahasa” para leluhur ini bukanlah perkara mudah bagi Ridwan. Ia adalah pengelana otodidak yang gigih. Orang tuanya hanya memberikan peta berupa panduan dasar syair dan lirik pantun, selebihnya ia dibiarkan berkelana dengan naluri musikalitasnya sendiri.

Dalam pengembaraannya, ia pun menjajal tabuhan gendang, berpindah ke ketipung untuk memahami detak ritme, hingga akhirnya ia menyerahkan hatinya pada gambus. “Kalau salah pencet senarnya, itu bisa salah nada, fals lah,” ujarnya menceritakan bagaimana jemarinya pernah terluka demi mengejar presisi sebuah nada.

Baca Juga: Guru PAUD Berharap Program Khusus S1 dari Pemkot Bontang 

Jalan yang ditempuh Ridwan adalah jalan sunyi yang penuh ujian. Ada musim-musim di mana ia merasa lelah, terutama saat melihat teman-teman sebayanya lebih bangga memegang gitar elektrik dan membentuk band daripada menyentuh gambus. Sempat terpikir olehnya untuk berhenti. Membiarkan dirinya hanyut dalam arus modernisasi yang lebih menjanjikan tepuk tangan instan.

Namun, status Guntung sebagai Kampung Adat bagaikan jangkar yang menahan Ridwan  untuk tidak hanyut. Baginya, gelar itu bukan sekadar papan nama kelurahan, melainkan sebuah sumpah suci. “Sayang kalau muda-mudanya tidak ikut terlibat. Jadi ambisi saya, bagaimanapun harus tetap mengenalkan budaya ini,” tegasnya.

Ridwan sadar, jika generasinya melepaskan pegangan pada tradisi ini, maka Tingkilan akan segera menjadi fosil yang membeku di sudut museum. Loyalitas kultural ini akhirnya membawanya ke panggung-panggung yang melampaui imajinasinya.

Denting Tingkilan di Tanah Guntung: Dedikasi Ridwan Yin Sindat Menjaga Api Warisan di Tengah Arus Modernisasi
Proses Wawancara dengan Ridwan Yin Sindat (Penggiat Tingkilan Guntung). (Dok/Pribadi

 

Baca Juga: Disdikbud Bontang Tekankan Pentingnya Kualifikasi Pendidikan bagi Warga Binaan

Dari teras rumah warga yang sederhana hingga megahnya perhelatan Erau Pelas Benua yang sakral. Bahkan, Ridwan pernah mendapatkan kesempatan langka memetik gambusnya dan melantunkan syair Tingkilan di hadapan Presiden Ke-7 RI Joko Widodo. Menghadapi orang yang pernah menjadi nomor satu di negeri ini tentu membuat dadanya bergemuruh, namun profesionalisme menjadi perisainya. “Ya manusiawi sih deg-degan, tapi kami tampil itu kan ya sudah profesional saja,” ungkapnya.

Setiap penampilan baginya adalah sebuah doa yang dilantunkan melalui dawai. Kesadaran bahwa ia tak bisa memikul beban sejarah ini sendirian, mendorong Ridwan mendirikan Sanggar Kembang Mayang pada enam tahun silam. Di keluarga, ia adalah anak tengah dari tiga bersaudara yang paling keras kepala menjaga musik ini, sementara adiknya setia mendampingi sebagai penari. Sanggar ini adalah “rumah kaca” bagi regenerasi budaya di tanah Guntung.

Sanggarnya kini dihuni oleh sekitar 20 pemuda dan pemudi berusia 15 hingga 25 tahun. Ridwan bukan hanya pelatih, ia adalah penerjemah bahasa kuno ke bahasa masa kini. Ia menyadari bahwa pemikiran generasi tua dan anak muda seringkali dipisahkan oleh jurang yang dalam. “Kalau orang tua kan kearifan lokalnya masih murni, sedangkan yang muda kita kemas disesuaikan dengan perkembangan zaman,” jelas Ridwan mengenai strateginya untuk menarik minat generasi Z.

Ridwan ingin membawa Tingkilan “menjemput bola” ke ruang-ruang publik modern seperti kafe-kafe di Bontang. Ia tidak menolak kolaborasi, ia justru merangkulnya agar tradisi tetap memiliki relevansi. Hasilnya, minat anak muda di Guntung terhadap alat musik tradisional justru melonjak, dibuktikan dengan regenerasi pemain yang kini tak lagi didominasi orang tua, melainkan jemari lincah para remaja yang mulai fasih memetik gambus. Sebuah oase di tengah padang pasir globalisasi. Di sana, prinsip “yang tua mewariskan, yang muda melestarikan” bukan lagi slogan, melainkan sebuah realitas.

Denting Tingkilan di Tanah Guntung: Dedikasi Ridwan Yin Sindat Menjaga Api Warisan di Tengah Arus Modernisasi
Penampilan Sanggar Kembang Mayang dalam Penutupan Erau Pelas Benua 2023. (Instagram@sanggartarikembangmayang)

 

Baca Juga: Disdikbud Bontang Tegaskan Kesetaraan Ijazah Paket dalam Sistem Pendidikan Nasional

Bagi Ridwan secara pribadi, Tingkilan bukan lagi sekadar hobi atau kesibukan mingguan setiap malam Sabtu dan Senin. Ia adalah identitas yang sudah menyatu dalam aliran darahnya, seurat dan senadi. Lahir dari keluarga yang memegang teguh filosofi “hidup beradat, mati beradat” Ridwan memandang setiap pantun dan nada sebagai bagian dari martabat dirinya. Tingkilan telah mengajarkannya tentang konsistensi yang teguh, kesabaran yang luas, dan kepercayaan yang kokoh.

Dukungan dari pemerintah kota dan bantuan CSR perusahaan-perusahaan besar seperti PT. Pupuk Kalimantan Timur dan Kaltim Industrial Estate menjadi angin segar bagi Sanggar Kembang Mayang. Namun bagi Ridwan, dukungan terbesar sebenarnya adalah setiap kali ia melihat seorang muridnya berhasil memetik satu nada dengan benar.

Sore itu, saat sinar matahari mulai meredup dan acara di Kelurahan Guntung berangsur sepi. Petikan dawai dari jemari Ridwan perlahan ikut melambat, kemudian sunyi. Ia melepaskan senar yang ia jaga sedari tadi dengan penuh kasih. Gambus itu disandarkan, seolah menutup satu babak pertunjukan, namun semangatnya tetap berpijar di udara.

Baca Juga: SDN 002 Bontang Barat Siapkan Pengajar Khusus untuk Kelas Awal

Sebelum kami berpisah, ia menitipkan sebuah pesan dalam bahasa Kutai yang terasa seperti mantra pelindung:

“Jangan pucahkan adat budaya etam, karena mon lain etam siapa pula.”

Artinya: “Jangan biarkan adat budaya kita rusak atau hilang, karena jika bukan kita yang menjaganya, siapa lagi”.

Kalimat itu menggantung di udara Guntung, menjadi pengingat bagi setiap anak muda bahwa di tangan merekalah nasib melodi-melodi leluhur ditentukan. Di tangan Ridwan Yin Sindat, api itu dipastikan akan terus menyala, menolak untuk padam oleh dinginnya arus modernitas. ***

*) Penulis adalah Siswi SMAS YPVDP Bontang, berita diikutsertakan dalam lomba FLS3N Tingkat Kota Bontang.

info

Peringatan Plagiarisme

Dilarang mengutip, menyalin, atau memperbanyak isi berita maupun foto dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari Redaksi. Pelanggaran terhadap hak cipta dapat dikenakan sanksi sesuai UU Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dengan ancaman pidana penjara maksimal 10 tahun dan/atau denda hingga Rp4 miliar.

Editor: M Zulfikar A

Menu