Portalbontang.com, Bontang - Kondisi keuangan daerah saat ini tengah menghadapi tantangan yang cukup berat akibat penurunan pendapatan yang signifikan.
Kabar mengenai merosotnya angka pendapatan daerah tersebut terungkap dalam sebuah pertemuan penting antarinstansi pada Rabu pagi.
Wakil Wali Kota, Agus Haris, menyampaikan informasi krusial tersebut di hadapan para perwakilan perusahaan dan perbankan.
Baca Juga: Wali Kota Bontang Siapkan Strategi Khusus Bangun Sekolah Rakyat Bontang Tanpa Biaya Besar
Pertemuan tersebut dikemas dalam agenda Musrenbang TJSLP 2027 yang digelar di Ruang Rapat Utama Kantor Wali Kota.
Agenda ini bertujuan menyelaraskan program tanggung jawab sosial perusahaan dengan prioritas pembangunan kota tahun mendatang.
Dalam sambutannya, Agus Haris mengungkapkan bahwa posisi APBD Bontang mengalami penurunan drastis dari tahun-tahun sebelumnya.
Nilai anggaran yang awalnya berada di kisaran 3,2 triliun rupiah, kini merosot menjadi sekitar 1,9 triliun rupiah saja.
Baca Juga: Kondisi Jembatan SMP Negeri 5 Bontang Memprihatinkan, Disdikbud Desak Perbaikan
Bahkan, pada tahun berjalan 2026, daerah ini juga tercatat sedang mengalami defisit hingga ratusan miliar rupiah.
“Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Dukungan dunia usaha sangat diperlukan agar pembangunan tetap berjalan,” ujarnya menegaskan komitmen.
Kondisi keuangan yang sulit ini diprediksi akan berdampak pada potensi tertundanya sejumlah program strategis milik daerah.
Baca Juga: Kurangi Kesenjangan Digital, Disdikbud Bontang Pastikan Semua Sekolah Tersentuh Teknologi
Pemerintah kota pun kini mulai mengalihkan fokus pembangunan pada sektor yang paling mendesak bagi kehidupan warga.
Sektor tersebut mencakup upaya penurunan angka kemiskinan, penanganan pengangguran, stunting, hingga penguatan para nelayan.
Pembangunan infrastruktur fisik pun kini bukan lagi menjadi prioritas utama pemerintah di tengah situasi fiskal saat ini.
Diharapkan kolaborasi antara pemerintah dan dunia usaha ini mampu menjaga keberlangsungan pelayanan publik di kota tercinta. ***