Portalbontang.com, Bontang - PT Pupuk Kalimantan Timur (PKT) secara transparan terus membagikan informasi mengenai progres pembangunan mega proyek terbarunya di Kota Bontang.
Proyek strategis berskala nasional tersebut adalah pembangunan pabrik Soda Ash, yang diproyeksikan menjadi fasilitas pertama dan satu-satunya di Indonesia.
Ketua Tim Persiapan Proyek Soda Ash PKT, Rifki Adi Nugroho, memaparkan kemajuan proyek ini secara langsung di hadapan puluhan insan pers Kota Taman dalam sesi buka puasa bersama, Sabtu 14 Maret 2026 lalu.
Baca Juga: Bukber PKT dan Insan Pers Bontang Berjalan Hangat Sambil Bahas Proyek Soda Ash
Rifki menjelaskan bahwa produk Soda Ash sangat vital bagi industri manufaktur, terutama sebagai bahan baku utama pembuatan kaca kendaraan dan panel surya (solar cell).
Kapasitas produksi pabrik yang berdiri di atas lahan seluas 16 hektare ini ditargetkan mampu mencapai 300 ribu metrik ton per tahun.
Mengingat ini adalah pionir di Tanah Air, PKT harus mendatangkan teknologi dan lisensi khusus dari luar negeri untuk operasionalnya.
"Soda Ash pabriknya ini teknologinya itu dari luar. Tidak ada dari Indonesia karena memang pertama di Indonesia. Teknologinya dari mana? Dari China. Ada namanya Hou Process, itu dari penemunya namanya Hou Debang," urai Rifki Adi Nugroho.
Baca Juga: Catat Lokasinya! PDM Bontang Siapkan 5 Titik Salat Idulfitri 1 Syawal 1447 H
Oleh karena itu, pada tahap awal operasionalnya, akan ada keterlibatan tenaga kerja asing asal China untuk proses transfer ilmu pengetahuan (knowledge sharing).
Secara timeline, proyek yang dimulai pada 19 Juni 2025 ini ditargetkan sudah dapat memproduksi dan menjual Soda Ash ke pasaran pada Maret 2028.
Saat ini, aktivitas di lapangan masih berfokus pada fase desain, persiapan lahan, serta pembangunan fasilitas sementara (temporary facility).
Baca Juga: PDM Bontang Gelar Kajian Al-Islam, Ustaz Irwansyah Al-Maidany Kupas Kemuliaan Bersama Al-Qur'an
Fase konstruksi sipil dan instalasi peralatan dijadwalkan baru akan dimulai secara masif pada rentang Juni 2026 hingga Desember 2027 mendatang.
Puncak konstruksi (peak) diprediksi terjadi pada Januari 2027, di mana area proyek akan dipenuhi dengan sekitar 10 bangunan utama skala besar.
Kehadiran pabrik ini diharapkan mampu menekan angka impor bahan baku kimia, sekaligus memperkuat kemandirian industri manufaktur di dalam negeri. ***