Portalbontang.com, Bontang – Sabtu pagi itu, 3 April 2025, suasana Mangrove Berbas Pantai masih menyisakan embun dan jejak pasang laut. Tapi ada yang berbeda dari biasanya.
Wali Kota Bontang turun langsung ke kawasan wisata ini, dalam sebuah inspeksi mendadak (sidak) yang tidak hanya mengejutkan pengelola, tapi juga membuka mata banyak pihak: bahwa wajah pariwisata kita masih butuh sentuhan serius.
Sidak ini bukan sekadar formalitas atau kunjungan seremonial. Sang Wali Kota menyusuri jalur kayu, memandang lekat tiap sudut, dan menyentil realitas yang selama ini mungkin terabaikan.
Baca Juga: Iduladha 2025 Jatuh Hari Jumat, Muhammadiyah Siap Kurban dan Gunakan Kalender Hijriah Global
“Beberapa fasilitas yang rusak, termasuk cat pagar yang sedang pudar. Kita harus membuat tempat wisata ini lebih indah dan nyaman bagi pengunjung,” tegasnya dilansir Portalbontang.com dari Instagram @prokompim.bontang, sembari menunjuk langsung pada beberapa titik yang dinilai sudah tidak layak.
Kritik itu bukan tanpa solusi. Instruksi pun meluncur cepat: kawasan Mangrove Berbas harus segera direvitalisasi secara menyeluruh.
Pengelolaan yang berada di bawah naungan Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Kota Bontang diminta bergerak cepat.
“Kalau mau wisata kita punya daya saing, maka standar pengelolaannya juga harus naik kelas,” ujar Wali Kota.
Baca Juga: Harga Sawit Naik, Petani Kaltim Tarik Nafas Lega: TBS Kini Tembus Rp3.350 per Kg
Kebetulan, saat sidak berlangsung, rombongan wisatawan asal Kutai Timur tengah menikmati keindahan hutan mangrove yang rimbun dan udara segarnya.
Pemandangan ini makin menegaskan: wisata lingkungan kita tak hanya milik warga lokal, tapi juga magnet bagi pendatang.
Maka, membenahi fasilitas bukan lagi pilihan—melainkan keniscayaan.
Baca Juga: Hardiknas 2025: Bontang Dorong Transformasi Pendidikan Digital, 256 Guru Negeri Terima Laptop
Dalam peninjauan tersebut, Wali Kota tidak sendiri. Turut mendampingi Sekretaris Daerah Bontang Aji Erlynawati, Kepala Bidang Pariwisata M. Ihsan, serta Sekretaris Lurah Berbas Pantai, Sinar Alif Mulyadi.
Mereka menyaksikan langsung apa yang perlu dikerjakan dan diperbaiki.
Langkah ini sejalan dengan semangat Bontang yang ingin tampil bukan hanya sebagai kota industri, tetapi juga sebagai kota destinasi.
Kota yang tidak kehilangan ruang hijaunya, tidak abai pada keindahan alamnya, dan peduli pada kenyamanan warganya—dan pengunjungnya.
Baca Juga: Misteri Dibalik Perbuatan: Ketika Cara Berpikir Jadi Pengendali
Menurut data Kemenparekraf, tren wisata berbasis alam dan edukasi lingkungan meningkat pascapandemi.
Kawasan mangrove menjadi salah satu yang paling diminati wisatawan karena menawarkan pengalaman menyatu dengan alam, tanpa kehilangan sentuhan lokal.
Artinya, Bontang punya peluang besar. Tinggal kemauan bersama untuk menjaga dan mengembangkan. ***
***
Penulis: M Zulfikar A | Editor: M Zulfikar A