Portalbontang.com, Sidoarjo – Memasuki hari ketujuh proses evakuasi insiden runtuhnya musala tiga lantai di Pondok Pesantren atau Ponpes Al Khoziny, Sidoarjo, sejumlah temuan mengejutkan muncul di antara puing-puing reruntuhan.
Di tengah duka atas bertambahnya korban jiwa menjadi 37 orang, sebuah pemandangan tak lazim menjadi sorotan: mimbar tempat imam memimpin salat ditemukan masih berdiri kokoh tanpa cela.
Fenomena ini kontras dengan kondisi sekitar yang luluh lantak. Sebagaimana dilaporkan akun Instagram @infojember pada Minggu (5/10/2025), visual dari atas reruntuhan memperlihatkan mimbar kayu itu utuh, seolah tak tersentuh tragedi.
“Pantauan dari atas reruntuhan, tampak mimbar Musala Al Khoziny tidak runtuh,” tulis keterangan unggahan tersebut.
Banyak warga meyakini, posisi di dekat mimbar itulah yang menjadi salah satu titik penyelamatan bagi sejumlah santri.
Di sisi lain, tim SAR gabungan juga menemukan sebuah mobil Mercedes-Benz berwarna hitam dalam kondisi ringsek parah di sektor A3. Kepala Kantor SAR Surabaya, Nanang Sigit, menegaskan fokus tim tetap pada pencarian korban jiwa.
“Untuk evakuasi mobil kami tidak berkomentar di sana. Kami fokus di evakuasi dari korban-korban ataupun korban yang artinya manusianya,” kata Nanang di lokasi kejadian, seperti dikutip dari CNN Indonesia.
Korban Jiwa Terus Bertambah
Sementara itu, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengonfirmasi jumlah korban meninggal dunia kini mencapai 37 orang, setelah penemuan 11 jenazah baru pada Minggu dini hari.
“Laporan terakhir, total terdapat 11 korban berhasil diekstrikasi pada hari ketujuh pencarian, di sektor A3 (sisi belakang reruntuhan),” kata Kasubdit RPDO Basarnas, Emi Freezer, dalam laporan resmi BNPB.
Deputi Penanganan Darurat BNPB, Mayjen TNI Budi Irawan, menambahkan bahwa sebagian besar korban ditemukan di lantai satu bangunan.
Kendala Evakuasi dan Risiko Kesehatan
Proses evakuasi kini menghadapi kendala baru. Selain struktur beton besar yang sulit diangkat, bau menyengat akibat pembusukan jenazah mulai menjadi risiko kesehatan.
“Risiko kesehatan dapat timbul apabila cairan pembusukan mencemari sumber air bersih, terutama di daerah padat penduduk,” jelas Budi Irawan.
Untuk mengatasi ini, BNPB dan Dinas Kesehatan telah mengintensifkan penyemprotan disinfektan dan memastikan petugas menggunakan alat pelindung diri (APD) yang memadai.
Hingga kini, tim SAR gabungan terus bekerja 24 jam demi menemukan seluruh korban dalam tragedi Al Khoziny.***