Pengamat Politik Sebut Negara Teluk Siap Ganti Biaya Militer AS Usai Serang Rezim Iran

Negara-negara Teluk diprediksi siap mengganti biaya operasi militer Amerika Serikat di Timur Tengah usai rezim Iran berhasil dilumpuhkan.

M
Eskalasi konflik bersenjata yang terjadi di kawasan Timur Tengah memunculkan berbagai spekulasi politik dari para pengamat internasional.
Eskalasi konflik bersenjata yang terjadi di kawasan Timur Tengah memunculkan berbagai spekulasi politik dari para pengamat internasional. | Foto: stock.adobe.com

Portalbontang.com, Bontang - Eskalasi konflik bersenjata yang terjadi di kawasan Timur Tengah memunculkan berbagai spekulasi politik dari para pengamat internasional.

Rezim Republik Islam Iran yang terus menargetkan negara-negara tetangga membuat kawasan perairan strategis mengalami krisis keamanan.

Sejumlah pengamat menilai ada kemungkinan besar negara-negara lain akan bergabung secara langsung dengan upaya Amerika Serikat (AS).

Baca Juga: Setda dan DWP Bontang Sebar Kebaikan di 3 Titik, Salurkan Bantuan Lengkap ke Panti dan Ponpes

Keterlibatan ini bertujuan untuk membatasi ruang gerak dan tindakan bermusuhan yang terus dilancarkan oleh rezim Iran.

Operasi militer melawan Iran ini dinilai memiliki arti khusus bagi negara-negara Arab Sunni di kawasan Teluk.

Hal ini memunculkan wacana bahwa mereka akan bersedia mengganti biaya operasi militer yang dikeluarkan AS setelah proses tersebut selesai.

Politisi Kurdi sekaligus mantan profesor di Universitas Ilmu Hayati di Norwegia, Jaafar Hamidi, menyampaikan pandangannya kepada VOA.

Baca Juga: Kepercayaan Masyarakat Naik 13 Persen, Lazismu Bontang Salurkan 750 Paket Kado Ramadan 1447 H

"Telah menjadi jelas bagi negara-negara Teluk bahwa Iran pada dasarnya tidak pernah menjadi teman mereka. Kita melihat bagaimana mereka menyerang semuanya, termasuk serangan ke Oman dan Qatar. Oleh karena itu, negara-negara Arab Teluk, yang berpaham Sunni, mendukung perang ini, dan pasca perang saya pikir mereka akan siap untuk mengganti biaya perang kepada Amerika," kata Jaafar Hamidi.

Selama belakangan ini, rezim Iran dilaporkan telah meluncurkan ribuan rudal dan drone ke arah negara-negara tetangganya.

Serangan tersebut mengakibatkan jatuhnya korban jiwa dan merusak infrastruktur sipil maupun ekonomi di negara-negara terkait.

Baca Juga: Kupas Tuntas Proyek Soda Ash PKT: Pabrik Pertama di Indonesia dengan Teknologi 'Hou Process' dari China

Rezim ini juga menghentikan sebagian besar aktivitas transportasi minyak melalui Selat Hormuz dan mengancam akan menargetkan kapal-kapal komersial.

Presiden AS Donald Trump pada hari Senin mendesak negara-negara sekutu, termasuk Tiongkok, untuk bergabung menjaga keselamatan kapal tanker.

Terkait bergabungnya negara-negara lain untuk membuka Selat Hormuz, Trump mengklaim telah mendapat respons yang positif.

"Banyak negara telah memberi tahu saya bahwa mereka sedang dalam perjalanan untuk tujuan ini... mereka telah mulai menuju [Selat Hormuz]," ujar Trump.

Baca Juga: Bukber PKT dan Insan Pers Bontang Berjalan Hangat Sambil Bahas Proyek Soda Ash

Mengenai dukungan diplomatik dari Prancis dan Presiden Emmanuel Macron, Trump menyatakan keyakinannya akan hal tersebut.

"Dalam skala 10, saya memberikan nilai 8 untuk Emmanuel," kata Trump.

Sementara itu, aktivis politik Reza Amini menilai inisiatif Presiden AS tersebut sangat tepat untuk melindungi Selat Hormuz.

Baca Juga: Catat Lokasinya! PDM Bontang Siapkan 5 Titik Salat Idulfitri 1 Syawal 1447 H

"Rezim Iran, dengan mengabaikan hukum internasional, telah mengacaukan keamanan maritim di kawasan tersebut dalam beberapa hari ini, dan hal itu telah memberikan dampak negatif terhadap kenaikan harga minyak dan gas cair," ujar Reza Amini.

Ia juga menyoroti keengganan beberapa negara pada awalnya untuk terlibat dalam pusaran konflik militer ini.

"Meskipun beberapa negara di kawasan Teluk dan dunia sejauh ini menghindar, mereka kini terpaksa harus bergabung dengan aliansi terorganisir bersama Amerika Serikat dan secara kolektif mencegah sikap keras kepala pemerintah Taheran sehingga tidak lagi memaksakan tirani ke seluruh dunia," jelasnya.

Operasi gabungan AS dan Israel terhadap Iran yang dimulai akhir bulan lalu telah melumpuhkan kekuatan utama negara tersebut.

Baca Juga: PDM Bontang Gelar Kajian Al-Islam, Ustaz Irwansyah Al-Maidany Kupas Kemuliaan Bersama Al-Qur'an

Jaafar Hamidi memprediksi perang ini akan menyeret lebih banyak pihak jika terus berlarut-larut.

"Jika perang ini berkepanjangan, Eropa juga akan ikut serta, dan negara-negara Teluk akan lebih berterima kasih kepada Amerika karena telah menyingkirkan bencana yang bernama rezim Mullah ini," pungkas Jaafar Hamidi. ***

info

Peringatan Plagiarisme

Dilarang mengutip, menyalin, atau memperbanyak isi berita maupun foto dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari Redaksi. Pelanggaran terhadap hak cipta dapat dikenakan sanksi sesuai UU Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dengan ancaman pidana penjara maksimal 10 tahun dan/atau denda hingga Rp4 miliar.

Editor: M Zulfikar A
Sumber: VOA

Menu