PORTAL BONTANG – Beberapa tahun belakangan sangat marak selebritas maupun influencer yang menawarkan minuman serbuk berperisa yang diklaim mengandung kolagen dan bahan aktif berupa L-gluthatione.
Beberapa produk yang mengandung kolagen telah mendapatkan izin sebagai suplemen kesehatan dan menampilkan klaim dapat menghaluskan kulit, mengembalikan jaringan kulit kendur, dan mengencangkan kulit.
Namun kenyataannya produk minuman kolagen yang beredar di Indonesia kebanyakan overclaim soal khasiatnya.
Beberapa produk mengandung kolagen dengan kemurnian rendah atau bahan campuran yang tidak diinginkan seperti kandungan gula yang berlebihan, sehingga manfaat yang didapatkan tidak maksimal.
Sehingga efektivitas kolagen yang dikonsumsi melalui minuman serbuk masih menjadi perdebatan karena tidak semua kolagen yang dikonsumsi secara oral dapat diserap dengan baik oleh tubuh.
Metabolisme Tubuh terhadap Kolagen
Kolagen berperan untuk mempertahankan keseimbangan matriks kulit agar kencang namun tetap elastis. Keberadaan kolagen ini tentunya dipengaruhi metabolisme dan senyawa radikal bebas dalam tubuh.
Baca Juga: Elon Musk Pamer Kemajuan Robot Humanoid Optimus Tesla, Gantikan Pegawainya di 2025?
Manusia yang sudah lanjut usia tentunya memiliki metabolisme tubuh yang cenderung lebih lambat dibandingkan dengan yang lebih muda. Kelambatan metabolisme dapat menyebabkan terjadinya penundaan pembentukan kolagen bahkan hingga terjadi degradasi kolagen.
Selain itu, keberadaan radikal bebas dalam tubuh dapat memicu degradasi kolagen pula. Hal ini disebabkan karena radikal bebas yang merupakan senyawa reaktif dapat teroksidasi dan mengikat makronutrien dalam tubuh termasuk protein.
Apabila kolagen sudah tidak lagi dibentuk dalam tubuh, tentunya keseimbangan matriks dalam tubuh dapat terganggu sehingga akhirnya ikatan yang kencang pada kulit lama-lama melemah dan pada akhirnya terbentuklah kerutan.
Baca Juga: Elon Musk Soal Menghapus Tab 'Suka' di Twitter (X): Lindungi Privasi Pengguna
Cara mencegah terjadinya kehilangan kolagen dalam tubuh adalah dengan mencegah terjadinya degradasi kolagen dan merangsang tubuh memproduksi kolagen itu sendiri.
Cara alami yang dapat dilakukan adalah dengan mengonsumsi makanan yang tinggi antioksidan, seperti alpukat, kiwi, kacang-kacangan, hingga minyak nabati yang kaya vitamin E, dapat menghambat pembentukan radikal bebas berlebih pada tubuh manusia sehingga radikal bebas tersebut tidak mengikat protein dan mendegradasi kolagen pada kulit.
Sedangkan konsumsi pangan yang mengandung tinggi vitamin C, seperti tomat dan jeruk, dapat membantu pembentukan kolagen dalam tubuh.
Selain itu, pola hidup yang sehat, seperti rajin berolahraga, berjemur secukupnya, dan mendonorkan darah, juga dapat membantu mencegah terjadinya degradasi kolagen yang berujung kepada kerutan pada kulit.
Pro dan kontra
Baca Juga: Cara Ampuh Mempercepat Booting Windows, Dijamin Bikin Ngacir!
Beberapa penelitian ilmiah telah dilakukan untuk mengetahui dan mengukur efek Glutathione antara lain penggunaan oral 500 mg/hari dapat mencerahkan kulit dan 250 mg/hari dapat mengurangi kerutan.
Kemudian salah satu merek suplemen kesehatan kolagen peptida dan dermo nutrients lain terbukti secara signifikan meningkatkan kelembaban, elastisitas, kekencangan dan kepadatan kulit setelah penggunaan selama tiga bulan.
Minuman kolagen tersebut juga terbukti secara signifikan menyembuhkan ulkus dekubitus (luka akibat penekanan yang lama pada kulit).
Penggunaan oral Low molecular weight collagen peptide yang bersumber dari ikan lele sutchi (Pangasius hypophthalmus) terbukti meningkatkan kelembaban kulit dan mengurangi kerutan setelah 6 sampai 12 minggu penggunaan.
Baca Juga: Siap-Siap, Uji Coba SIM dengan Syarat BPJS Kesehatan Dimulai Juli 2024 di Bontang
Selain itu telah ditemukan beberapa efek samping yang tidak diinginkan pada level ringan dan sedang pada penggunaan Glutathione dan tidak ditemukan efek samping serius, meskipun ditemukan peningkatan transaminase namun perlu penelitian lebih lanjut terhadap hal tersebut.
Pada penggunaan 500 mg/hari ditemukan subjek mengalami flatulen pada beberapa hari awal penggunaan.
Belum terdapat pengujian terhadap keamanan penggunaan Glutathione pada wanita hamil dan menyusui, bahkan terdapat artikel menyatakan bahwa L glutathione tidak disarankan untuk dikonsumsi oleh ibu hamil dan menyusui.
Baca Juga: Breaking News! Kebakaran Besar di Area Pabrik PT EUP, Damkar Masih Berjibaku dengan Api
Selain itu terdapat beberapa efek samping yang perlu diwaspadai diantaranya masalah pencernaan, sensitivitas dan ada juga yang mengakibatkan alergi.
Dari penelitian yang dilakukan oleh BPOM pada tahun 2021 lalu melaporkan bahwa iklan kolagen di pasaran berpotensi dapat menyebabkan penggunaan yang tidak aman bagi ibu hamil, menyusui dan anak-anak serta penggunaan dalam jangka Panjang.
Selain itu banyak responden yang tidak tahu terhadap penggunaan produk pada ibu hamil dan anak-anak sehingga perlu pembatasan informasi dari iklan yang mencantumkan keamanan produk pada kedua golongan tersebut.
Para penyusun adalah Mahasiswa Jurusan Ilmu Pangan, IPB
***