Portalbontang.com, Bontang - Selain menyoroti peran pedagang dalam mencegah anak membeli barang yang tidak sesuai usia, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Bontang juga menekankan pentingnya keterlibatan orang tua dalam melakukan pengawasan terhadap anak, khususnya ketika berada di luar lingkungan sekolah.
Pengawasan dari keluarga dinilai menjadi salah satu faktor paling penting untuk mencegah anak terlibat dalam perilaku menyimpang maupun pergaulan yang berisiko.
Kepala Disdikbud Bontang, Abdu Safa Muha, mengatakan bahwa keluarga merupakan tempat pertama bagi anak dalam belajar membentuk karakter, sikap, hingga pola perilaku sehari-hari.
Baca Juga: Diwarnai Suasana Haru, Wawali Agus Haris Lepas 112 Jamaah Haji Bontang ke Tanah Suci
Karena itu, pendidikan yang diberikan di rumah memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan anak, termasuk dalam membangun kedisiplinan dan tanggung jawab sejak usia dini.
“Peran orang tua sebenarnya lebih penting, apalagi di luar lingkungan sekolah,” katanya, Selasa (5/5/2026).
Ia menjelaskan bahwa pihak sekolah memiliki keterbatasan dalam melakukan pengawasan karena waktu interaksi dengan siswa hanya berlangsung selama jam belajar.
Setelah itu, pengawasan sepenuhnya kembali menjadi tanggung jawab keluarga. Kondisi tersebut membuat peran orang tua semakin krusial, terutama dalam memastikan anak tetap berada di lingkungan dan aktivitas yang positif.
Menurutnya, pengawasan tidak hanya sebatas melarang atau membatasi aktivitas anak, tetapi juga mencakup perhatian terhadap pola pergaulan dan kebiasaan sehari-hari.
Orang tua diimbau untuk lebih aktif mengenali teman-teman anak, mengetahui tempat yang sering dikunjungi, serta memahami aktivitas yang dilakukan di luar rumah agar potensi pengaruh negatif dapat dicegah lebih awal.
Selain pengawasan, komunikasi yang baik di dalam keluarga juga dinilai sangat penting.
Baca Juga: Konsisten Latihan Bawa Dua Siswa SDN 011 Bontang Selatan Raih Juara FLS3N Tingkat Kota
Orang tua diharapkan mampu membangun hubungan yang terbuka dengan anak sehingga mereka merasa nyaman untuk bercerita mengenai masalah, tekanan pergaulan, maupun pengalaman yang dihadapi sehari-hari tanpa rasa takut dihakimi.
Dirinya menilai pendekatan yang terlalu keras justru dapat membuat anak memilih menutup diri dan mencari pelarian di lingkungan yang salah.
Karena itu, pola komunikasi yang hangat dan penuh perhatian dianggap lebih efektif dalam membangun kedekatan emosional antara orang tua dan anak.
Dengan keterlibatan aktif dari keluarga, Disdikbud berharap anak memiliki kontrol diri yang lebih kuat serta mampu membedakan mana perilaku yang baik dan buruk.
"Saya yakin, pendampingan dari orang tua juga dapat membantu anak lebih percaya diri untuk menolak ajakan yang berpotensi merugikan dirinya maupun masa depannya," tandasnya. (adv)