Disdikbud Bontang: Terapi di Autis Centre Fokus pada Perilaku, Bukan Akademik

Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Bontang meluruskan anggapan bahwa Autis Centre tidak dimanfaatkan secara optimal.

R
Sekretaris Disdikbud Bontang, Saparuddin.
Sekretaris Disdikbud Bontang, Saparuddin. | Foto: Rhae/Portalbontang.com

Portalbontang.com, Bontang - Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Bontang meluruskan anggapan bahwa Autis Centre tidak dimanfaatkan secara optimal. 

Sekretaris Disdikbud Bontang, Saparuddin, menegaskan bahwa fungsi utama fasilitas tersebut memang bukan untuk pembelajaran akademik seperti di sekolah.

Ia menjelaskan, anak dengan spektrum autisme tetap mengikuti pendidikan formal di sekolah umum maupun Sekolah Luar Biasa (SLB), sesuai tingkat kebutuhannya. 

Baca Juga: Diwarnai Suasana Haru, Wawali Agus Haris Lepas 112 Jamaah Haji Bontang ke Tanah Suci

Sementara itu, Autis Centre hadir sebagai ruang terapi untuk memperkuat kemampuan non-akademik.

“Yang dilakukan di sana bukan mengajar pelajaran seperti matematika atau bahasa, tetapi melatih anak dalam mengelola perilaku, emosi, dan interaksi sosial,” terangnya.

Menurutnya, banyak pihak keliru karena mengukur keberhasilan Autis Centre dari sisi pembelajaran formal. 

Padahal, bagi anak autis, kemampuan beradaptasi dan berinteraksi justru menjadi fondasi utama.

Baca Juga: Mentan Amran Lepas Ekspor Perdana Pupuk Urea PKT ke Australia, Tembus Rp7 Triliun, Selanjutnya India, Filipina, Brazil, dan Bangladesh

Ia mencontohkan, dalam kehidupan sehari-hari, anak autis kerap menghadapi kesulitan dalam situasi yang dianggap biasa oleh orang lain. Perubahan kecil bisa memicu reaksi emosional yang cukup besar.

“Misalnya ada perubahan kebiasaan sederhana, itu bisa membuat mereka tidak nyaman. Di situlah terapi dilakukan secara bertahap agar mereka bisa menerima kondisi baru,” ujarnya, Senin (11/5/2026).

Pendekatan terapi yang diterapkan bersifat individual dan terjadwal. Setiap anak mendapatkan pendampingan khusus sesuai karakter dan tingkat kebutuhannya.

Baca Juga: Konsisten Latihan Bawa Dua Siswa SDN 011 Bontang Selatan Raih Juara FLS3N Tingkat Kota

“Tidak bisa digabung seperti kelas biasa. Kalau satu anak terganggu emosinya, harus ditangani langsung supaya tidak berdampak ke yang lain,” jelasnya.

Untuk menunjang layanan tersebut, Disdikbud telah membekali tenaga pendamping dengan pelatihan khusus, termasuk kerja sama dengan Universitas Gadjah Mada (UGM).

Saparuddin menambahkan, hingga kini para tenaga pendamping masih mendapat pemantauan dan pendampingan lanjutan guna memastikan kualitas layanan tetap terjaga.

Ia berharap masyarakat dapat melihat peran Autis Centre secara utuh sebagai bagian penting dalam mendukung perkembangan anak autis, bukan sekadar dari sisi akademik. (adv)

info

Peringatan Plagiarisme

Dilarang mengutip, menyalin, atau memperbanyak isi berita maupun foto dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari Redaksi. Pelanggaran terhadap hak cipta dapat dikenakan sanksi sesuai UU Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dengan ancaman pidana penjara maksimal 10 tahun dan/atau denda hingga Rp4 miliar.

Editor: M Zulfikar A

Menu