IFG Gandeng Pakar Hong Kong, Pastikan Dana Pensiun dan Asuransi Nasabah Aman dari Defisit

Cegah risiko gagal bayar, IFG perketat tata kelola investasi lewat strategi ALM bersama FSDC Hong Kong. Langkah konkret lindungi dana nasabah.

M
Indonesia Financial Group (IFG) menyelenggarakan sharing session bertema “Bridging Financial Centres: Pathways in Insurance and Capital Markets”
Indonesia Financial Group (IFG) menyelenggarakan sharing session bertema “Bridging Financial Centres: Pathways in Insurance and Capital Markets” | Foto: Dok. IFG

Portalbontang.com, Jakarta - Indonesia Financial Group (IFG) mengambil langkah tegas untuk memperkuat tata kelola investasi dan pengelolaan aset di sektor asuransi dan dana pensiun.

Langkah ini diwujudkan melalui sharing session bertajuk “Bridging Financial Centres: Pathways in Insurance and Capital Markets” yang digelar di Jakarta.

Acara yang berlangsung pada 11 Februari 2026 ini menggandeng Executive Director Financial Services Development Council (FSDC) Hong Kong, Rocky Tung.

Baca Juga: Tok! Kemenag Bontang Tetapkan Zakat Fitrah 2026: Tertinggi Rp68.400, Terendah Rp58.900

Kolaborasi lintas negara ini bertujuan untuk mematangkan praktik Asset Liability Management (ALM) di tubuh IFG dan seluruh anggota holding.

Bagi industri keuangan, ALM bukan sekadar teori, melainkan fondasi utama untuk menjamin keberlanjutan bisnis asuransi dan dana pensiun di tengah dinamika ekonomi.

Proses ALM ini menggunakan pendekatan siklus PDCA (Plan, Do, Check, Action), yang mencakup pengumpulan data hingga penetapan strategi investasi.

Tujuan akhirnya sangat jelas: mengeliminasi risiko pasar dan memastikan perlindungan optimal terhadap dana investasi aman milik nasabah.

Baca Juga: Masjid Al Ikhlas Muhammadiyah Bontang Dipadati Jamaah di Salat Tarawih Perdana, Mulai Puasa 18 Februari 2026

Sekretaris Perusahaan IFG, Denny S. Adji, menyoroti bahwa banyak masalah asuransi di Indonesia berakar pada praktik pengelolaan aset yang kurang berhati-hati (prudent).

"Prioritas utama perusahaan adalah memastikan dana nasabah aman. Pengelolaan yang disiplin adalah kunci kesehatan perusahaan," tegas Denny.

Praktik buruk di masa lalu sering memicu ketidaksesuaian (mismatch) antara kewajiban perusahaan dan ketersediaan aset tunai.

Baca Juga: Heboh Puasa Ikut Alaska, Muhammadiyah Jawab Keraguan Publik Soal 1 Ramadan 1447 H Versi KHGT

Untuk mengatasinya, IFG kini menerapkan kerangka Liability Driven Investment (LDI). Strategi ini memastikan investasi perusahaan sejalan dengan profil kewajibannya.

Pendekatan LDI ini akan meminimalkan potensi gagal bayar dan menjaga kepercayaan masyarakat terhadap instrumen dana pensiun di Indonesia.

Sementara itu, Rocky Tung dari FSDC Hong Kong menekankan bahwa stabilitas dan profitabilitas jangka panjang adalah nyawa dari industri asuransi.

"Melalui ALM, perusahaan bisa memitigasi risiko suku bunga, menjaga likuiditas, dan memastikan ketersediaan modal operasional," jelas Rocky.

Dengan langkah proaktif ini, IFG berharap industri asuransi nasional semakin tangguh, stabil, dan mampu memberikan kepastian pencairan klaim bagi seluruh pemegang polis. ***

info

Peringatan Plagiarisme

Dilarang mengutip, menyalin, atau memperbanyak isi berita maupun foto dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari Redaksi. Pelanggaran terhadap hak cipta dapat dikenakan sanksi sesuai UU Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dengan ancaman pidana penjara maksimal 10 tahun dan/atau denda hingga Rp4 miliar.

Editor: M Zulfikar A
Sumber: IFG

Menu