Portalbontang.com, Bontang - SDN 008 Bontang Utara mengandalkan penguatan ekosistem hijau dan keterlibatan seluruh warga sekolah untuk menjaga predikat Adiwiyata Mandiri.
Langkah itu diwujudkan melalui penyiapan 700 tanaman serta kebijakan partisipatif yang melibatkan guru hingga orang tua murid.
Kepala SDN 008 Bontang Utara, Masitah, mengatakan mempertahankan predikat Adiwiyata Mandiri membutuhkan konsistensi, karena status tersebut dapat dicabut jika indikator penilaian tidak lagi terpenuhi.
Baca Juga: Polres Bontang Bongkar Jaringan Sabu di Berebas Tengah, Tiga Pria Diringkus Polisi
“Kalau tidak mampu mempertahankan, bisa kembali nol lagi. Jadi tidak boleh lengah atau santai. Karena itu kami terus memperkuat persiapan,” ujarnya.
Sebagai bagian dari strategi itu, sekolah menyiapkan sekitar 700 tanaman yang tersebar di lingkungan sekolah.
Koleksi tersebut menjadi bagian penting dalam menjaga indikator penghijauan dan konservasi.
Tanaman yang dikembangkan terdiri dari berbagai jenis, mulai mahoni, pala, langsat, duku, rambutan, kelengkeng, jeruk, belimbing, mangga, sawo, melinjo, kopi, kakao, hingga pohon ulin.
Baca Juga: OJK Desak BNI Tuntaskan Kasus Dana Nasabah Aek Nabara, Rp7 Miliar Sudah Dikembalikan
Menurut Masitah, keberadaan tanaman tidak hanya mendukung aspek penilaian, tetapi juga dimanfaatkan sebagai sarana edukasi karena sebagian tanaman produktif sudah beberapa kali dipanen.
“Semua saya punya koleksi tanaman. Bahkan ulin juga ada, yang tidak semua sekolah punya. Itu juga menjadi perhatian saat penilaian,” katanya.
Ia menambahkan, keberhasilan menjaga program lingkungan juga bergantung pada keterlibatan semua unsur sekolah.
Baca Juga: SPMB SMP Bontang Buka 2 Skema Pendaftaran, Disdikbud Siapkan Mekanisme Fleksibel
Karena itu, guru, siswa, dan orang tua dilibatkan aktif dalam berbagai penguatan program.
Salah satu bentuknya ialah kebijakan satu guru satu tanaman. Dari 36 guru yang ada, sekolah memiliki tambahan puluhan jenis tanaman yang memperkaya keragaman vegetasi di lingkungan sekolah.
Selain menjaga status Adiwiyata Mandiri, sekolah mulai melihat peluang menuju tingkat ASEAN.
Meski demikian, fokus saat ini tetap diarahkan pada menjaga capaian yang telah diperoleh.
“Mandiri itu sudah di atas nasional. Sekarang yang utama bagaimana mempertahankan, karena itu yang paling penting,” tutupnya. (adv)