Kurangnya Kasih Sayang Jadi Sorotan, Disdikbud Bontang Kaitkan Ekspresi Gender dengan Kondisi Emosional Anak

Kepala Disdikbud Bontang, Abdu Safa Muha, menyebut bahwa anak-anak yang kurang mendapatkan perhatian cenderung mencari bentuk ekspresi lain sebagai pelampiasan.

R
Kepala Disdikbud Bontang, Abdu Safa Muha.
Kepala Disdikbud Bontang, Abdu Safa Muha. | Foto: Rhae/Portalbontang.com

Portalbontang.com, Bontang - Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Bontang mengaitkan fenomena ekspresi gender di kalangan pelajar dengan kondisi psikologis anak, khususnya yang berkaitan dengan kurangnya perhatian dan kasih sayang dari lingkungan keluarga. 

Hal ini dinilai sebagai salah satu faktor utama yang memengaruhi pembentukan perilaku anak di usia sekolah.

Ekspresi gender yang dimaksud adalah cara anak menampilkan dirinya melalui perilaku maupun penampilan yang terkadang tidak sesuai dengan identitas biologisnya. 

Baca Juga: Larangan Guru Honorer Dinilai Bisa Ganggu Operasional Sekolah di Bontang

Fenomena ini, menurut Disdikbud, tidak bisa dipandang secara sederhana karena memiliki latar belakang emosional yang kompleks.

Kepala Disdikbud Bontang, Abdu Safa Muha, menyebut bahwa anak-anak yang kurang mendapatkan perhatian cenderung mencari bentuk ekspresi lain sebagai pelampiasan. 

Kondisi ini membuat mereka rentan mengadopsi perilaku yang dianggap berbeda dari norma yang berlaku di lingkungan sosialnya.

“Kasih sayang orang tua adalah hal yang tidak bisa digantikan atau dibeli dari orang lain,” tegasnya.

Baca Juga: SDN 011 Bontang Selatan Perkuat Pendidikan Karakter Lewat Apresiasi Siswa Dermawan

Ia menilai bahwa kehadiran orang tua dalam kehidupan anak tidak hanya sebatas memenuhi kebutuhan materi, tetapi juga kebutuhan emosional yang sering kali terabaikan. 

Interaksi sederhana seperti berbicara dari hati ke hati, memberikan pelukan, hingga menunjukkan perhatian kecil memiliki dampak besar terhadap perkembangan mental anak.

“Orang tua harus meluangkan waktu, memeluk, mencium, dan berkomunikasi dengan anak di tengah kesibukan mereka,” katanya.

Baca Juga: Sempat Bikin Heboh, Ternyata Segini Harga Asli Kursi Pijat Gubernur Kaltim

Disdikbud menilai pendekatan berbasis emosional dan kekeluargaan menjadi kunci dalam menangani fenomena ini, dibandingkan pendekatan yang bersifat represif.

Anak perlu merasa diterima dan dipahami agar proses pembinaan berjalan efektif.

Dengan memperkuat hubungan emosional dalam keluarga, diharapkan anak-anak dapat tumbuh dengan rasa percaya diri yang sehat dan tidak mencari bentuk ekspresi yang menyimpang sebagai bentuk pelarian. (adv)

info

Peringatan Plagiarisme

Dilarang mengutip, menyalin, atau memperbanyak isi berita maupun foto dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari Redaksi. Pelanggaran terhadap hak cipta dapat dikenakan sanksi sesuai UU Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dengan ancaman pidana penjara maksimal 10 tahun dan/atau denda hingga Rp4 miliar.

Editor: M Zulfikar A

Menu